counter easy hit
Kuliah Tamu Dina Nuriyati: Isu Perlindungan Buruh Migran Indonesia Sangat Krusial

Kuliah Tamu Dina Nuriyati: Isu Perlindungan Buruh Migran Indonesia Sangat Krusial

Pada tanggal 12 November 2019 telah dilakukan Kuliah Tamu untuk mata kuliah Studi Hak Asasi Manusia dan Politik Diaspora dan Migrasi Internasional dengan pembicara Dina Nuriyati, seorang mantan pekerja migran Indonesia yang saat ini merupakan anggota Dewan Penasehat serta Koordinator untuk Riset dan Hubungan Internasional di Sarikat Buruh Migran Indonesia (SBMI). Dina telah menempuh pendidikan hingga MA di Global Labour University, Jerman. SBMI sendiri terdiri atas pekerja migran, mantan pekerja migran, serta anggota keluarga mereka. Kerja-kerja yang dilakukan di antara lainnya adalah advokasi, pemberdayaan dan kontrol sosial, dimana SBMI mengupayakan untuk mengemukakan isu-isu pekerja migran ke pembahasan publik.

Dalam kuliah tamu ini yang diselenggarakan di ruang sidang, dosen tamu menjelaskan perkembangan kerangka kebijakan perlindungan pekerja migran Indonesia. Perkembangan terakhir ini juga merupakan salah satu advokasi kebijakan yang dilakukan oleh SBMI adalah Undang-Undang Perlindungan Buruh Migran. Dengan adanya UU No. 18 tahun 2017 ini, dibahas lebih spesifik mengenai perlindungan, peran pemerintah dan peran desa. Disana dimungkinkan berbagai program untuk mendorong kesiapan pekerja migran seperti penguatan mental, dan orientasi di tempat tujuan.

Dina kemudian menegaskan bahwa perspektif kita mengenai buruh migran sangat krusial. Selama ini ada kategorisasi unskilled dan skilled worker yang memposisikan buruh migran di posisi lemah dalam tawar menawar atau pemenuhan hak karena dianggap tidak terampil. Padahal, tentu saja mereka memiliki keterampilan, baik itu pekerja domestik, pekerja perkebunan, pekerja konstruksi dan lain sebagainya. Perubahan stigma ini sangat penting untuk mewujudkan kebijakan yang lebih adil bagi para pekerja migran.

Pada akhirnya, dengan perkembangan yang ada, masih banyak pekerjaan rumah untuk advokasi buruh migran. Misalnya memperjuangkan adanya UU Pekerja Rumah Tangga, implementasi pendidikan vokasi, pelatihan bagi pekerja migran, mendorong pemerintah untuk mengakomodir Rancangan Peraturan Pemerintah tentang Pengawasan versi Forum Masyarakat Sipil dan masih banyak lainnya.

Cita-cita masyarakat sipil adalah ke depannya tercipta sistem migrasi yang aman dan adil dimana migrasi pekerja bukan lagi menjadi jalan keluar dari tekanan ekonomi, namun migrasi menjadi peluang untuk hal-hal yang positif bagi masyarakat. HI hebat!

Kuliah Tamu: Meifita Handayani dan Isu-isu HAM Terkini

Kuliah Tamu: Meifita Handayani dan Isu-isu HAM Terkini

Mata kuliah Studi Hak Asasi Manusia merupakan mata kuliah wajib bagi mahasiswa Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman. Salah satu target pembelajaran khusus di mata kuliah ini adalah mahasiswa dapat mengenali dan memetakan posisi, peran dan tantangan yang dihadapi aktor-aktor non-negara atau sayap civil society di suatu negara. Untuk itu, setiap tahunnya diadakan kuliah tamu yang menghadirkan praktisi yang bergerak di isu-isu hak asasi manusia. Kuliah tamu tahun ini diadakan pada 5 November 2019 dengan menghadirkan Meifita Handayani, seorang penggiat gender dan agraria. Saat ini, Meifita merupakan associate researcher di Kopkun Institute.

Untuk memantik diskusi, Meifita menunjukkan pemetaan Meifita isu-isu HAM yang kini menjadi inti pendampingan, yakni isu agraria, perlindungan perempuan dan anak, dan Isu-isu minoritas. Selanjutnya, area kerja NGO dapat dikategorisasikan pada NGO lokal, nasional, regional dan global. Namun, Meifita menekankan, tidak ada area kerja aktivisme yang benar-benar tunggal misalnya lokal saja atau global saja, karena biasanya selalu berkaitan satu sama lain. Tipe-tipe NGO pada umumnya meliputi riset, advokasi, pemberdayaan, kampanye dan charity.

Ketika bekerja dalam isu-isu pembangunan, penting bagi NGO untuk benar-benar bekerja dengan memahami permasalahan pembangunan, konteks sosial, politik dan ekonomi yang melatarbelakanginya. Di samping itu, salah satu hal inti dari pembangunan adalah memastikan partisipasi masyarakat dalam proses pembangunan. Di sini NGO dapat memainkan perannya pada pemberdayaan dan edukasi masyarakat mengenai isu-isu sosial. Namun ini harus didukung dengan pendataan dan dokumentasi yang kuat. Oleh karena itu, sangat krusial bagi penggiat NGO untuk menggunakan metode kerja yang saintifik dengan menekankan pada pendataan dan dokumentasi.

Meifita mencontohkan salah satu pendampingan yang pernah digelutinya, dimana ia tidak hanya meneliti masyarakat yang bersinggungan dengan isu pembangunan namun juga mendorong mereka untuk terlibat aktif. Akhirnya dibentuklah kelompok belajar yang terdiri atas pemuda dan pelajar di sekitar masyarakat yang diteliti yang secara rutin mendiskusikan isu-isu sosial di sekitarnya sehingga mereka menyadari masalah dan kebutuhan mereka sendiri. Tantangan lain datang dari eksternal NGO, berupa suasana politik dan sensitivitas isu yang memposisikan pegiat dalam tempat yang berbahaya seperti menjadi sasaran kriminalisasi.

 

Pelatihan Strategi Publikasi Jurnal Internasional Bereputasi

Pelatihan Strategi Publikasi Jurnal Internasional Bereputasi

Tim Insignia Journal of International Relations yang diwakili oleh Arief Bakhtiar D., M.A. dan Dr. Agus Haryanto mengikuti pelatihan bertema “Strategi Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi dan Penulisan Conference Paper ke Jurnal”. Pelatihan diselenggarakan oleh Fakultas Hukum pada 31 Oktober 2019, bertempat di Conference Room Gedung Yustisia 2. Pembicara pada seminar kali ini adalah Dr. Mohd. Hazmi Mohd. Rusli dari Universiti Sains Islam Malaysia.

Bapak Hazmi menekankan bahwa untuk menembus publikasi di jurnal internasional bereputasi, seorang akademisi harus menempuh program S3 terlebih dahulu. Tanpa menempuh program doktoral, sangat sulit untuk memperoleh pengakuan internasional. Selanjutnya, seorang akademisi harus paham dalam menggunakan Mendeley. Oleh karena itu, Bapak Hazmi memberikan contoh tahap-tahap memakai aplikasi Mendeley.

Bapak Hazmi juga menceritakan pengalaman penolakan naskah jurnal karena bahasa Inggris yang tidak tepat. Orang-orang yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama seringkali kesulitan menembus jurnal internasional. Oleh karena itu, kita harus menabung untuk membayar proofreading yang bisa mencapai 20 juta, misalnya melalui https://www.eliteediting.com.au/. Biaya tersebut tergolong besar, namun akan sangat bermanfaat bagi masa depan akademis kita untuk menembus jurnal internasional bereputasi.

Terima kasih kepada Fakultas Hukum atas undangan dan terselenggaranya acara ini. HI hebat!

Lokakarya Kurikulum Jurusan HI: Bersiap Menghadapi Model Pendidikan 4.0

Lokakarya Kurikulum Jurusan HI: Bersiap Menghadapi Model Pendidikan 4.0

Untuk memperkuat sistem dan model pembelajaran di Jurusan Hubungan Internasional, Gugus Kendali Mutu (GKM) jurusan mengadakan lokakarya kurikulum pada hari Selasa, 29 Oktober 2019, di Libero Café. Lokakarya ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Bapak Tri Nugroho Adi, M.Si dari internal selaku perwakilan dari Lembaga Pengembangan Pembelajaran Penjaminan Mutu (LPPPM) Universitas Jenderal Soedirman, dan Ibu Baiq Wardhani, Ph.D dari eksternal selaku perwakilan dari Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional indonesia (AIHII).

Lokakarya ini dibuka oleh Wakil Dekan II FISIP Dr. Wahyuningrat mewakili Dekan yang berhalangan hadir. Dalam sambutannya, Wadek II memberikan apresiasi yang besar kepada para pembicara dan Jurusan HI, serta alumni HI yang telah memasuki kementerian-kementerian favorit seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukum dan HAM, dan lain sebagainya. Fakultas yakin bahwa jurusan ini mempunyai tenaga yang luar biasa untuk menghadirkan perubahan. Beliau menambahkan, kurikulum harus menjadi instrumen utama untuk bertanggung jawab pada publik sehingga bisa sejalan dengan profil lulusan/ alumni.

Pembicara pertama, Bapak Tri Nugroho Adi, M.Si. menyampaikan dasar perubahan kurikulum dari Kementerian Pendidikan Tinggi yang mencakup perkembangan ilmu pengetahuan, kebijakan pemerintah, kebutuhan pengguna lulusan, evaluasi kurikulum yang sedang berjalan, dan pendidikan 4.0. Tambahan dari kementerian adalah fokus pada pendidikan 4.0. Caranya, kuliah memakai teknologi, seperti memakai Eldiru atau memakai telepon genggam di kelas. Dosen dilegalkan untuk memakai empat pertemuan dengan model pembelajaran jarak jauh. Perubahan kurikulum sangat penting karena kita tidak boleh memberikan ilmu yang tidak menjamin masa depan kerja mahasiswa.

Sementara itu, pembicara kedua, Ibu Baiq Wardhani, Ph.D lebih mengevaluasi kaitan antara visi-misi jurusan dengan kurikulum jurusan. Ibu Baiq menegaskan bahwa Jurusan HI harus memiliki perbedaan karakteristik dengan Jurusan HI di universitas lain. Jadi, jika kementerian atau perusahaan mencari profil lulusan dengan kemampuan tertentu, maka lulusan Jurusan HI dari Universitas Jenderal Soedirman yang dicari. Oleh karena itu, Jurusan HI harus memperbaiki beberapa hal, seperti profil lulusan, deskripsi kemampuan profil lulusan, serta penyesuaian mata kuliah yang ditawarkan dengan visi-misi universitas, fakultas, dan jurusan.

Semoga kurikulum baru Jurusan HI merupakan kurikulum yang mampu beradaptasi dengan tren saat ini dan mampu memaksimalkan pendidikan 4.0. HI hebat!

Partisipasi Insignia Journal of International Relations dalam Pelatihan Akreditasi dan Reakreditasi Jurnal Ilmiah

Partisipasi Insignia Journal of International Relations dalam Pelatihan Akreditasi dan Reakreditasi Jurnal Ilmiah

Tim Jurnal Universitas Jenderal Soedirman kembali mengadakan pelatihan bagi para pengelola jurnal ilmiah di internal Universitas Jenderal Soedirman bertema Workshop Persiapan Akreditasi dan Reakreditasi Jurnal Ilmiah Unsoed”. Pelatihan diselenggarakan pada hari Senin, 21 Oktober 2019, di Ruang Rapat Rektorat Lantai 1. Pembicara dalam acara ini adalah Adi Darmawan, Ph.D, Kepala Editor Jurnal Kimia Sains dan Teknologi dari Universitas Diponegoro.

Acara dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Akhmad Sodiq dan Ketua Tim Jurnal Dr. Amin Fatoni. Keduanya menyampaikan harapan agar tim jurnal terus bersemangat dalam mengelola karya-karya ilmiah dan memajukan nama universitas sebagai kampus akademis. Universitas sendiri memiliki target 50% jurnal mencapai minimal Sinta 2. Perwakilan dari Insignia Journal of International Relations dalam acara ini adalah Arief Bakhtiar D., M.A. Hadir pula Dr. Edi Santoso perwakilan dari Jurnal Acta Diurna, Dr. Slamet Rosyadi perwakilan dari Jurnal Public Policy and Management Inquiry, dan Itsna Hidayatul H., M.Si. dari Jurnal Widya Komunika.

Dalam lokakarya tersebut, Pak Adi Darmawan, Ph.D menyampaikan pentingnya jurnal akreditasi bagi pengelola, dosen, maupun universitas. Bagi pengelola, akreditasi tinggi yang diperoleh bisa meningkatkan jumlah naskah yang masuk, meningkatkan kepercayaan kontributor, serta meningkatkan pendapatan bagi tim jurnal. Bagi dosen dan universitas, jika jurnal bisa terindeks secara internasional, hal itu bisa meningkatkan peluang untuk berkolaborasi dengan peneliti lain dari seluruh dunia.

Oleh karena itu, kampus dari level universitas, fakultas, dan jurusan harus memberikan dukungan baik moral maupun material kepada para pengelola jurnal. Pelatihan seperti ini perlu terus diselenggarakan secara berkala. HI hebat!

Kuliah Praktisi: Pengalaman Dr. Ito Sumardi, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar 2014-2019

Kuliah Praktisi: Pengalaman Dr. Ito Sumardi, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar 2014-2019

Jurusan Hubungan Internasional (HI) kembali mengadakan kuliah praktisi. Kali ini, pembicara yang didatangkan ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) adalah Dr. Ito Sumardi, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar 2014-2019, dengan moderator dosen Jurusan HI Tundjung Linggarwati, M.Si. Beliau pernah menjabat sebagai kepala badan reserse dan kriminal (Kabareskrim) Polri dan saat ini juga menjadi komisaris perusahaan besar Indonesia seperti JAPFA yang memiliki beberapa cabang di luar negeri. Dalam mengemban jabatan sebagai duta besar, Dr. Ito Sumardi pernah dianugerahi Hassan Wirajuda Award sebagai bentuk penghargaan atas prestasi-prestasi beliau.

Pada tanggal 16 Oktober 2019, di aula FISIP, Dr. Ito Sumardi menyampaikan pengalamannya sebagai duta besar Indonesia yang membawa visi-misi politik luar negeri Indonesia di Myanmar. Acara ini dibuka oleh Ketua Jurusan Dr. Agus Haryanto, Dekan FISIP Dr. Jarot Santoso, dan Wakil Rektor II Dr. Kuat Puji Prayitno. Di awal paparannya, Pak Ito menyampaikan bahwa Indonesia memiliki visi nasional yang terkait dengan pangan, energi, maritim, industri, dan infrastruktur. Dari kelima visi tersebut, prioritas pemerintah adalah ekonomi. Hal itulah yang beliau pegang ketika menjadi duta besar, yaitu meningkatkan perdagangan Indonesia dengan Myanmar.

Myanmar merupakan negara yang sangat penting bagi Indonesia. Myanmar, misalnya, mendukung kemerdekaan RI. Myanmar juga memiliki potensi sumber daya alam yang sayangnya belum dimanfaatkan secara optimal oleh pengusaha Indonesia. Sementara itu, peran dan jasa Indonesia sangat besar dalam hal demokrasi dan pemilu. Indonesia juga menentang sanksi ekonomi terhadap Myanmar.

Pak Ito menceritakan bahwa Myanmar merupakan negara yang memiliki kemampuan luar biasa dalam hal pertanian, misalnya mengenai produksi beras. Myanmar juga tempat yang aman, tidak seperti yang diberitakan. Orang-orang Myanmar sangat hormat dan sopan terhadap orang Indonesia. Ketika masalah Rohingnya membuat situasi Indonesia bergolak, terutama dari sisi kelompok Islam, Indonesia berinisiatif untuk membantu menyelesaikan persoalan. Namun, Indonesia tidak mau hanyut dalam opini Organisasi Kerja Sama Islam dan masyarakat yang mencap buruk pemerintah Myanmar.

Dalam menangani isu Rohingya di Myanmar, diplomat Indonesia menggunakan strategi seperti constructive engagement, megaphone diplomacy, inclusive approach, dan prinsip non-intervensi. Indonesia tidak hanya berniat membantu Rohingya, tetapi juga ingin membantu Myanmar lepas dari masalah tersebut. Oleh karena itu, Myanmar menyambut baik saran dan bantuan Indonesia.

Mudah-mudahan acara ini membawa kerja sama yang lebih erat antara Kementerian Luar Negeri RI dan Jurusan HI. Pak Ito sendiri mendorong Jurusan HI untuk menjalin MoU dengan Kemenlu RI agar mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman bisa magang di berbagai KBRI di seluruh dunia. HI hebat!

Follow by Email
Facebook
Facebook
Google+
http://hi.fisip.unsoed.ac.id/category/berita
Twitter
Visit Us
Instagram