counter easy hit
bahis bahis atlasbet baysansli bet10bet betkolik betsidney fashionbet gorabet holiganbet odeonbet romabet betasus betdoksan betgarden btcbahis casinoper casinovale coinbar eurocasino kazansana lesabahis mottobet trcasino trendbet nerobet bahistek

Pada hari Kamis, 26 April 2018, para pengurus jurnal Universitas Jenderal Soedirman mengikuti pelatihan menuju jurnal terakreditasi di Fakultas Kedokteran. Pelatihan tersebut diisi oleh Pak Juni Sumarmono, Ph.D dan Pak Amin Fathoni, Ph.D. Dalam acara tersebut, Pak Juni menyampaikan informasi bahwa saat ini terdapat 431 jurnal terakreditasi di Indonesia. Untuk menuju jurnal terakreditasi, pedoman yang digunakan masih menggunakan Pedoman Akreditasi Terbitan Berkala Ilmiah tahun 2014.

Saat ini, DIKTI sangat mendorong jurnal untuk menuju status terakreditasi. Dalam acara itu, setidaknya ada dua tema pokok yang dibahas. Pertama, bagaimana asesor menilai apakah jurnal yang ada dapat menjadi jurnal terakreditasi. Kedua, mencoba evaluasi diri jurnal di Arjuna. Intinya, jurnal ilmiah harus ada peer review oleh teman sejawat. Semua artikel harus melalui proses telaah, sesederhana apa pun proses tersebut. Untuk menjadi jurnal terakreditasi, sebuah jurnal tidak harus OJS. Sistem lain bisa dipakai. Yang ditekankan di sini adalah, tidak perlu mempedulikan dulu mengenai terakreditasi atau tidak, yang penting pengelolaannya sesuai.

Setidaknya ada dua asesor yang akanmenilai jurnal kita. Pertama, asesor manajemen. Yang dinilai adalah proses pengiriman, pengelolaan, sampai kemudian jurnal terbit. Pastikan asesor ingin memastikan dewan editor mudah ditemukan. Untuk focus and scope akan dilihat keselarasan dengan judul-judul jurnal. Proses peer review harus ditulis detail. Berapa lama di editor, berapa lama di pereviu, berapa lama revisi. Biasanya dari pengiriman sampai diterima waktunya 2 bulan. Untuk mendapat nilai tinggi, pedoman penulisan kalau lengkap (ada online, bahasa Indonesia, bahasa Inggris). Sementara itu, masalah plagiarism policy bukan soal punya Turnitin, tapi jurnal harus melarang tidak boleh ada plagiat. Ada data mengenai berapa kali situs dibuka, berapa kali artikel dilihat dan diunduh, dan sebagainya.

Kedua, asesor konten. Semua artikel itu dipilih. Kalau kita ajukan 2 edisi yang terdiri 20 artikel, semua artikel akan dinilai. Tidak hanya 10% atau 20%. Dalam konteks substansi artikel, ada enam yang dinilai. Pertama, orisinal karya: ada kebaruan dari tema dan tahun pustaka yang dipakai (buku itu pustaka sekunder, harusnya jurnal ilmiah sebagai pustaka primer). Kedua, makna sumbangan bagi kemajuan ilmu, yaitu rujukan yang dipakai baru dan menggunakan artikel primer. Ketiga, nisbah sumber primer dibanding sumer sekunder (80% harus dari jurnal ilmiah sebagai pustaka primer). Keempat, pustaka mutakhir, memakai pustaka baru. Kelima, analisis sintesis, apakah artikel sudah betul-betul membahas materi. Keenam, bagaimana tulisan itu disimpulkan, bukan sekedar hasil ditulis ulang. Jadi makna dari tulisan itu.

Dalam gaya penulisan, ada lima yang dinilai. Pertama, judul artikel, yaitu judul yang memperlihatkan hasil atau informatif, dan tidak lebih dari 25 kata untuk bahasa Indonesia dan 20 kata untuk bahasa Inggris. Kedua, abstrak, ditulis dalam bahasa Inggris dan bahasa Indonesia, maksimal 200 kata. Asesor lebih suka yang rinci: latar (bisa jadi tidak ada), tujuan (rumusan masalah), metode, hasil, simpulan. Ketiga, kata kunci mencerminkan konsep penting. Hal ini memang mulai dipertanyakan karena saat ini Google bisa menemukan kata apa saja. Keempat, instrumen pendukung, seperti grafik, tabel, dan gambar yang harus informatif: tulisan jelas, petunjuk jelas, selaras dengan isi. Kelima, ke-bahasa-an, penggunaan kata baku dan kata dalam bahasa Inggris yang sudah ada dalam bahasa Indonesia.

Semoga dengan adanya acara ini, Jurnal Insignia of International Relations mampu menuju ke arah jurnal terakreditasi di tahun-tahun mendatang. HI hebat!

Please follow and like us:
Pin Share
RSS
YouTube
Instagram
SOCIALICON