img_20161012_103506

“Cita-citaku Setinggi Pohon Sawit”

Posted on Posted in Berita

Ini adalah judul yang dibuat oleh Dosen Tamu Bapak Sugiarto, ketika memantik diskusi di kuliah gabungan kelas Diaspora dan Migrasi Internasional dan kelas Transnasionalisme, keduanya diampu oleh dosen Sri Wijayanti dan Nurul Zayzda. Sugiarto dulu pernah menjadi guru di lingkungan tempat tinggal buruh migran Indonesia yang bekerja di perkebunan sawit di negara bagian Sabah, Malaysia. Tepatnya, dulu ia mengajar di dekat kota Sandakan, yakni di Telupit.

img_20161012_103506

Dalam pemantik diskusinya pada Rabu pagi 12 Oktober 2016 ini, Sugiarto bercerita mengenai pengalamannya sebagai guru di wilayah pedalaman Malaysia tersebut. Ia mengisahkan bagaimana kebutuhan guru hadir disana dimana pada tahun 1994 terjadi perubahan regulasi mengenai pendidikan anak buruh migran di Malaysia; apabila tadinya akses pendidikan di sekolah-sekolah Malaysia cukup mudah, pada tahun itu, peraturan diperketat. Regulasi baru telah menyulitkan anak-anak buruh migran asal Indonesia (BMI) dari segi dokumen dan dari segi pembiayaan. Dengan kondisi orangtua yang bekerja sebagai buruh kasar di perkebunan, tidak memungkinkan bagi mereka untuk bisa ikut bersekolah seperti anak penduduk asli.

Situasi ini mendorong sebuah organisasi non-pemerintah (NGO) Internasional asal Denmark, Humana, mendirikan sekolah Humana untuk pendidikan selevel sekolah dasar. Belakangan, pemerintah Indonesia turut membangun Community Learning Center (CLC) untuk pendidikan level sekolah dasar hingga menengah atas. Sugiarto menuturkan bahwa dari pengalamannya mengajar di tahun 2011-2015, kondisi sekolah-sekolah di lingkungan tempat tinggal BMI masih sangat membutuhkan perbaikan mulai dari segi fasilitas fisik, buku, hingga jumlah tenaga pengajar. Walau bagaimanapun, ia melihat bahwa anak-anak Indonesia disana memiliki semangat belajar yang sangat tinggi. Karena itulah selepas pulang dari Sabah dan kembali berktivitas di tanah air, Sugiarto mengupayakan pendidikan lebih lanjut bagi anak-anak itu di Indonesia.

Menurutnya lagi, salah satu kendala lain untuk pendidikan anak adalah kesadaran keluarga mengenai pentingnya pendidikan itu sendiri. Ini tidak dapat dipungkiri merupakan dampak langsung dari beratnya kehidupan buruh migran di bidang pekerjaan kasar di Malaysia. Dengan penghasilan yang kurang memadai, seringkali anak yang sudah cukup besar kemudian juga bekerja menjadi buruh di lingkungan perkebunan.

Pengantar diskusi ini kemudian disambut antusias oleh mahasiswa dengan berbagai pertanyaan dan komentar. Beberapa mahasiswa ingin mengetahui mengenai bentuk-bentuk integrasi migran asal Indonesia disana. Dalam hal ini, Sugiarto menjelaskan bahwa lingkungan tempat tinggal buruh migran terpisah dari lingkungan masyarakat lainnya, mereka tinggal di estate khusus untuk buruh, “… tapi jangan bayangkan seperti perumahan yang mewah atau kondisinya bagus ya,” selorohnya. Di samping itu, sangat sedikit space yang memungkinkan migran mempunyai ruang untuk berbudaya, sehingga pada akhirnya bentuk komunitas migran Indonesia tidak berkembang menjadi seperti Chinatown atau Little India. Beberapa mahasiswa lain kemudian ingin mendiskusikan sejauh mana peran negara, yakni pemerintah Indonesia dalam melindungi warganya yang berada di luar batas negara. Menurut Sugiarto, peran itu sudah terlihat dari upaya diplomasi yang akhirnya melahirkan CLC, dari pendanaan untuk sekolah, dan dari pengiriman guru-guru.

Lebih jauh lagi, dari diskusi ini juga dapat dipelajari bagaimana apa yang dialami anak-anak BMI di Malaysia ini merupakan dampak dari aktivitas bisnis perusahaan perkebunan sendiri. Seandainya saja pekerja dilihat sebagai mitra perusahaan, tentunya mereka tidak hanya mendapat fasilitas yang lebih layak, namun juga anak-anak menjadi tanggung jawab perusahaan. Tapi disini buruh hanya dipandang sebagai pekerja atau bawahan, sehingga anak tidak dilihat sebagai tanggung jawab, justru sebagai beban, terbukti dari masih ada perusahaan yang tidak memberi ijin pendirian CLC di lingkungannya.

Pada akhirnya, memang dibutuhkan cara pandang yang lebih luwes agar tercipta jalan keluar bagi anak-anak migran, yakni pandangan yang keluar dari kekakuan konsep negara-bangsa di zaman globalisasi ekonomi. Pandangan yang kaku dalam kasus ini menyebabkan anak-anak sulit mendapat pendidikan karena mereka menjadi warga asing yang “tidak berhak”, atau mereka menjadi warga negara yang kurang terperhatikan apakah itu karena masalah jarak, atau status sosial. Anak-anak buruh perkebunan kelapa sawit berhak bercita-cita setinggi sawit, atau malah lebih tinggi supaya mereka dapat melihat keluar dan menjelajah dunia, seperti halnya anak-anak Malaysia atau anak-anak Indonesia lainnya, seperti halnya kamu dan seperti halnya saya.

Please follow and like us:
Follow by Email
Facebook
Facebook
Google+
http://hi.fisip.unsoed.ac.id/v2/2016/10/12/cita-citaku-setinggi-pohon-sawit/
Twitter
Visit Us
Instagram

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *