Cerita Magang Mahasiswa HI Unsoed di Travelxism dalam Mewujudkan Pariwisata Inklusif

Purwokerto, 7 Juni 2026 – Bicara soal HI tentu cakupannya sangat luas, termasuk ke ranah diplomasi budaya dan pembangunan berkelanjutan. Realita inilah yang dieksplorasi secara langsung oleh para mahasiswa HI Unsoed lewat program magang di Travelxism. Travelxism sendiri merupakan entitas yang bergerak di bidang pariwisata, proyek sosial, serta pengembangan pengalaman wisata yang berakar pada isu sosial dan budaya. Selama menjalani masa magang, mahasiswa HI Unsoed terjun langsung mengembangkan konsep pariwisata yang inklusif, edukatif, dan membawa dampak positif bagi lingkungan sekitar.
Berlangsung selama kurang lebih dua bulan, tepatnya dari Maret hingga Mei, para mahasiswa magang menaruh fokus pada sebuah pilot projek yang berlokasi di kawasan heritage Taman Sari Yogyakarta. Misi utamanya adalah merancang panduan wisata multisensori yang inklusif. Prosesnya berjalan cukup panjang dan terstruktur. Setelah menerima pengarahan awal, mahasiswa langsung turun ke lapangan untuk melakukan riset dan observasi mengenai tingkat aksesibilitas destinasi wisata tersebut. Data yang didapat kemudian dieksekusi menjadi produk nyata, seperti penyusunan audio guide yang aksesibel serta beragam media edukasi.
Peran anak-anak HI sangat beragam, mereka rutin melakukan pertemuan dan koordinasi lintas sektor, mulai dari dinas terkait, komunitas disabilitas, mentor, hingga pihak vendor. Setelah produk panduan wisata selesai dirancang, mereka juga mengadakan uji coba langsung bersama pengguna untuk mengevaluasi efektivitasnya. Rangkaian kegiatan ini kemudian ditutup dengan perumusan policy brief dan persiapan acara launching produk wisata inklusif tersebut.
Magang ini memberikan sudut pandang baru bagi para mahasiswa. Mereka bisa melihat secara langsung bagaimana isu-isu global diterjemahkan ke dalam kebijakan dan tindakan di tingkat lokal. Pengalaman lapangan ini membuktikan bahwa sektor pariwisata bisa menjadi instrumen pemberdayaan masyarakat dan sarana diplomasi budaya yang efektif. Di luar teori akademik, mahasiswa mendapatkan ruang untuk mengasah kemampuan praktis seperti stakeholder engagement, manajemen proyek, komunikasi publik, hingga analisis isu sosial. Bagi Travelxism keterlibatan mahasiswa sukses menelurkan program dan media wisata yang berdampak sosial, sekaligus mengukuhkan posisi perusahaan sebagai penggerak sustainable & inclusive tourism. Di sisi lain, masyarakat dan pengunjung destinasi wisata mendapatkan suguhan pengalaman wisata yang lebih edukatif dan ramah bagi semua kalangan. Proyek ini membuka ruang partisipasi yang jauh lebih luas bagi kelompok disabilitas untuk ikut mengapresiasi pelestarian budaya.