Pada tanggal 18 Mei 2017, Jurusan Hubungan Internasional mengadakan kuliah umum politik luar negeri Indonesia yang diisi oleh Profesor Abubakar Ebihara. Beliau merupakan dosen Universitas Jember dan pernah menjadi dosen tamu di Universitas Utara, Malaysia.
Dalam kuliah umumnya yang berjudul Proyeksi Politik Luar Negeri Indonesia di Kawasan Asia-Pasifik, Profesor Ebi mencoba menganalisis politik luar negeri Indonesia dalam tiga perspektif besar dalam ilmu hubungan internasional, yaitu realisme, liberalisme, dan konstruktivisme. Perspektif realisme, misalnya, selama ini dapat menjelaskan politik Perang Dingin. Namun pada masa sekarang, realisme juga masih bisa relevan dalam kondisi-kondisi tertentu. Geopolitik adalah salah satu perspektif realisme yang pernah dipakai oleh para pemimpin Indonesia, misalnya oleh Muhamad Yamin yang memasukkan wilayah Malaysia sebagai bagian dari Indonesia merdeka. Itu berarti seorang pemimpin menganggap penting wilayah, dan setiap pemimpin hampir pasti memikirkan hal ini. Setiap pemimpin memikirkan tentang ancaman. Bung Karno, sebagai contoh lain, khawatir dengan Irian Barat dan Malaysia. Presiden Soeharto mengingkan ASEAN, kawasan Asia Tenggara, sebagai kawasan yang bebas nuklir.
Dalam perspektif liberalisme, salah satu proyeksinya adalah ketika Indonesia fokus pada ekonomi di ASEAN. Sementara itu, perspektif konstruktivisme yang menganggap penting ide juga hadir dalam proyeksi politik luar negeri Indonesia. Perspektif konstruktivisme percaya bahwa dunia internasional digerakkan oleh ide, dan bagaimana ide tersebut relevan dan diterapkan. Presiden Soeharto, misalnya, punya pandangan bahwa Indonesia itu pembangunan lebih dahulu saja, bukan koar-koar di luar seperti Bung Karno. Contoh lain adalah pandangan dan perilaku yang berangkat dari identitas negara demokrasi dan menghormati hak asasi manusia. Presiden Megawati, dalam menangani kasus terorisme, lebih memilih menggunakan kekuatan polisi, bukan militer seperti yang dilakukan Amerika Serikat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuat Bali Democratic Forum untuk menegaskan diri sebagai negara demokratis.
Setelah materi yang disampaikan Profesor Ebi, kuliah umum kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi tanya jawab. Diskusi berjalan cukup seru yang mana muncul banyak pertanyaan dari pada mahasiswa yang hadir dalam kuliah umum ini.
Peserta kuliah umum Andika Sandi menanyakan bagaimana Indonesia melihat Tiongkok yang terus mengalami perkembangan, baik secara ekonomi maupun militer. Profesor Ebi menjawab bahwa secara umum, dalam prakteknya, Indonesia tidak melihat Tiongkok sebagai ancaman, melainkan ada potensi kerja sama di sana. Belum lama ini Presiden Joko Widodo juga berkunjung ke Tiongkok.
Fitri Adziza menanyakan mengenai bagaimana sebenarnya kebijakan politik luar negeri Presiden Joko Widodo, dan bagaimana perbedaannya dengan politik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang lebih menerapkan high-profile policy. Menjawab pertanyaan tersebut, Profesor Ebi lebih dahulu menegaskan bahwa Presiden SBY memang mendominasi aktivitas luar negeri pada masa pemerintahannya. Oleh karena itu, ada orang-orang yang kecewa dengan Presiden Joko Widodo karena meninggalkan apa yang telah dilakukan oleh Presiden SBY tersebut. Acara Bali Democratic Forum yang dulunya konferensi tingkat tinggi selevel kepala negara, sekarang hanya jadi pertemuan level menteri saja. Presiden Joko Widodo cenderung menganut keterlibatan selektif. Padahal, negara-negara yang sekarang datang ke Indonesia adalah hasil dari aktivisme pada zaman Presiden SBY, karena negara-negara tersebut menganggap Indonesia sebagai negara yang berhasil dalam demokrasi.
Peserta lain, Zakie Andiko Ramadhani, menanyakan bagaimana melihat konstruktivisme dala menganalisis kebijakan suatu negara. Profesor Ebi langsung mencontohkan Presiden Soeharto dan para pendukungnya (seperti Soemitro, Emil Salim, atau Adam Malik) yang memiliki ide pembangunan, yaitu bahwa perilaku Indonesia harus diartikan ke arah kepentingan nasional. Yang penting kuat dulu di dalam, nanti baru aktif ke luar. Dalam ide pembangunan ini, politik luar negeri harus konkret, bukan seperti Bung Karno yang flamboyan, banyak bunga-bunga.
Diskusi yang seru tersebut kemudian ditutup dengan pemberian plakat dan beberapa karya ilmiah jurusan Hubungan Internasional untuk Profesor Ebi. HI hebat!