Pada hari Rabu, 24 Mei 2017, Prof. Andrik Purwasito, Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Negeri Surakarta, menyampaikan kuliah umum yang berjudul Anonimus: Paradigma Panggung Wayang (“Theater Shadow Paradigm”) sebagai Model Analisis Hubungan Internasional di aula FISIP Unsoed. Beliau merupakan dosen sekaligus ketua jurusan Hubungan Internasional Universitas Negeri Surakarta. Beliau juga merupakan seorang dalang yang berpengalaman tampil di luar negeri, seperti India, Rumania, Moldova, Bulgaria, Rusia, dan Jepang.
Dekan FISIP Unsoed Dr. Ali Rokhman, M. Si yang membuka kuliah umum menyatakan bahwa FISIP merasa terhormat Prof. Andrik bersedia datang ke Universitas Jenderal Soedirman untuk berbagi ilmu mengenai Anonimus. Pak Dekan berbagi pengalaman bahwa dirinya yang masuk dalam dua grup WhatsApp mengamati bahwa masing-masing pihak biasanya merasa paling benar. Satu kelompok merasa paling benar, dan satunya juga merasa paling benar. Yang membuat grup-grup WhatsApp tersebut menarik, menurut Pak Dekan, adalah mencari tahu siapa sebenarnya yang menjadi dalang dan wayang. Dr. Ali Rokhman kemudian menceritakan pengalamanya bahwa ketika dirinya mengikuti sesi ke 4 dan ke-5 di acara Lemhanas, peserta tidak diperbolehkan mengambil foto karena terkait dengan rahasia negara yaitu masalah terorisme dan perdagangan manusia. Pertanyaannya, siapa dalang di balik isu-isu tersebut. Oleh karena itu, menurut Pak Dekan, tema Anonimus merupakan tema yang sangat menarik.
Sebelum kuliah dimulai, Prof. Andrik menyanyikan lagu Lir-Ilir bersama-sama peserta dan memperlihatkan metode pengajaran baru di UNS yang mana beliau mengajar sebagai dalang dalam sebuah pagelaran wayang. Beliau ingin menegaskan bahwa ilmu bisa disampaikan di luar kelas, dengan berbagai cara.
Pada awal kuliah umum, Prof. Andrik menekankan bahwa ilmu itu harus bermanfaat. Oleh sebab itu, ilmu HI harus bermanfaat bagi masyarakat kecil. Contohnya, ilmu HI harus bisa menunjang pedagang dengan memberikan ilmu-ilmu supaya barang dagangan para pedagang kecil tersebut bisa diekspor. Jadi, Hubungan Internasional tidak sekedar sekolah tentang nuklir, pertahanan-keamanan, atau ilmu-imu lain yang teoritis semacam itu. Menurut beliau, sia-sia jika Hubungan Internasional memberikan sesuatu yang tidak aplikatif pada para mahasiswanya.
Prof. Andrik kemudian beranjak pada teori beliau mengenai Sang Anonimus. Sang Anonimus adalah “invisible power who control the world”. Menguasai apa? Pertama, Anonimus menguasai aktor negara (presiden, menteri luar negeri, diplomat) dan aktor kelompok kepentingan (mereka yang suka dibayar). Kedua, Anonimus mengontrol komunikasi, informasi, dan media, yang membuat dunia privat kita terganggu. Misalnya, Siti tadi malam nonton video porno. Nonton video semacam itu barangkali wajar karena anak muda nafsunya menyala-nyala. Tapi kemudian menjadi tidak wajar jika orang lain tahu. Contoh lain, virus WannaCry yang memaksa orang untuk membayar sejumlah uang kepada pembuatnya. Orang bisa diperas karena Anonimus mengontrol informasi. Ketiga, Anonimus mengontrol ekonomi, politik, militer, dan pop-culture.
Semua hal itu dimungkinkan karena, menurut Prof. Andrik, ada mutasi dari citizen ke netizen. Akibatnya, orang bisa menyentuh kita meskipun kita berada di kamar yang terkunci rapat. Misalnya, minta pulsa tinggal minta dari kamar.
Dengan melihat perkembangan tersebut, model analisis panggung wayang bertujuan menguak musuh-musuh tersembunyi dalam hubungan internasional. Dalam analisis ini ada “panggung depan” yang ramah dan sopan. Namun, dalam “panggung belakang”, ada imperialisme yang dilakukan secara halus. Misalnya, di bidang budaya ada motif ekonomi dalam film-film Hollywood. Sang Anonimus membuat global hidden adenda seperti agenda perdamaian dunia, demokratisasi, dan investasi, yang sebenarnya “kuda kroya” yang merusak suatu negara dari dalam.
Sesi tanya jawab yang berlangsung setelah Prof. Andrik berjalan cukup menarik. Rizqy Akbar, misalnya, menanyakan bagaimana cara melepaskan diri dari kontrol sang Anonimus. Prof. Andrik mengatakan bahwa yang paling mudah adalah memakai HP jadul, karena di dalamnya kita tidak memiliki terlalu banyak data yang tersimpan, sehingga identitas kita akan aman. Tentu saja jika kita orang biasa kita tidak perlu khawatir. Identitas-identitas diri akan berbahaya, terutama kalau kita adalah orang penting.
Andika Dewantara, salah satu mahasiswa, menanyakan bagaimana cara agar soft-power diplomacy Indonesia bisa berhasil di luar negeri. Prof. Andrik menjawab bahwa jika kita memakai soft-power dalam bidang politik, maka jatuhnya adalah menang dan kalah. Indonesia ada kemungkinan kalah. Begitu pula jika Indonesia memakai soft-power dalam bidang ekonomi, kita kemungkinan kalah karena jatuhnya kalah dan menang. Namun, jika cara yang kita pakai dalam soft-power diplomacy adalah melalui budaya, kita bisa sama-sama diuntungkan karena kita sama-sama senang menikmati budaya yang kita tampilkan tersebut.
Dengan adanya diskusi ini, Prof. Andrik mengingatkan kita semua bahwa Hubungan Internasional harus punya respon yang kritis dan kontributif untuk membuat para civitas akademika-nya menjadi manusia yang unggul dan berguna bagi kemajuan kehidupan masyarakat. HI hebat!