Seminar Nasional yang diselenggarakan oleh oleh Jurusan Hubungan Internasional, Fakultas ilmu sosial dan ilmu politik, Universitas Jenderal Soedirman ini menghadirkan tiga narasumber yakni Drs. Isman Pasha, MH, dari Direktorat Kerjasama ASEAN, Kementerian Luar Negeri, Drs. Arief Wahyudhi, MSi dari Badan Perencanaan dan Pembangunan Daerah (BAPPEDA) Jawa Tengah serta Dr. Agus Hariyanto, pengajar Jurusan Hubungan Internasional, Universitas Jenderal Soedirman. Seminar ini dipandu oleh Elpeni Fitrah, MA, pengajar Jurusan Hubungan Internasional.
Pada kesempatan ini, Dekan FISIP UNSOED membuka acara dengan menyampaikan urgensi dari diplomasi ekonomi Indonesia bagi kesejahteraan masyarakat Indonesia secara menyeluruh. Bagaimana melalui meja-meja perundingan Indonesia dapat meningkatkan posisi tawarnya di berbagai aspek kehidupan ekonomi.
Selanjutnya pembicara pertama Bapak Agus Hariyanto menegaskan bahwa dalam konteks hubungan internasional, negara tidak perlu diatur, pihak swasta dan negara memiliki peran masing-masing. Kita tidak dapat mengharapkan swasta, melainkan negara sebagai pengatur. Diplomasi ekonomi sementara itu sejatinya berorientasi pada pengembangan ekonomi nasional. Menurutnya pada saat ini kendala diplomasi ekonomi Indonesia terletak pada belum ditemukannya kompetensi inti industri suatu negara, lemahnya koordinasi antar departemen pemerintahan, dan kurangnya sharing informasi pasar.
Pada pemaparan Bapak Arief Wahyudhi dapat dilihat aspek mengenai informasi pasar ini, pada khususnya pada sektor UMKM. Sektor UMKM di jawa tengah jumlahnya 7,9 juta unit usaha (4,2 juta di sector pertanian dan 3,7 juta non pertanian). Ia menilai kelemahan sector ini kerika ekspor yang gagal di luar negeri karena mutu kualitas barang yang kurang. Maka mengembangkan produksi dalam negeri diperlukan dalam meningkatkan kualitas produksi dalam negeri yang dapat diekspor. Ia kemudian mengungkapkan masalah lain dimana dengan adanya subsidi ekspor, produsen ekspor hanya mengejar target subsidi ekspor bukan mengembangkan kualitas. Di sisi lain, Jawa Tengah telah membuat strategi Forum Pengembangan Ekonomi Sumber Daya dalam menjalani pilot project. Jawa Tengah menggunakan konsep cluster dalam mengembangkan UMKM. Jawa Tengah menjadi rujukan pilot projek karena melakukan pertumbuhan ekonomi yang real.
Pemaparan terakhir dari Bapak Isham Pasha menekankan kepada tenaga kerja di bawah kerangka ASEAN. Menurutnya, selama ini fokus terlalu besar diberikan kepada Masyarakat Ekonomi ASEAN, dan terlalu kecil diberikan kepada Masyarakat Sosial dan Budaya ASEAN. Padahal, aspek sosial inilah yang paling menyentuh kehidupan masyarakat. Dalam mengirim pekerja kita memberikan pendidikan dan memberikan lapangan kerja namun yang utama adalah bagaimana melindungi mereka. Konsep “Masyarakat ASEAN” belum dapat diimplementasikan kepada seluruh negara karena masih adanya perasaan “masyarakat nasional” negaranya. Di samping itu, Negara-negara ASEAN juga memiliki perasaan takut bersaing dengan pekerja negara lain. Pada kenyataan bukan negara ASEAN yang banyak bekerja di Indonesia melainkan pekerja dari China, Korea, dan Inggris. Terakhir, ia menyampaikan bahwa bangsa Indonesia sedang kehilangan jati diri untuk membangun bangsanya untuk kemajuan bersama. Mesin Diplomasi Ekonomi utama adalah kemampuan kompetisi antara daerah untuk berkembang dan maju.