counter easy hit
Pelatihan Strategi Publikasi Jurnal Internasional Bereputasi

Pelatihan Strategi Publikasi Jurnal Internasional Bereputasi

Tim Insignia Journal of International Relations yang diwakili oleh Arief Bakhtiar D., M.A. dan Dr. Agus Haryanto mengikuti pelatihan bertema “Strategi Publikasi di Jurnal Internasional Bereputasi dan Penulisan Conference Paper ke Jurnal”. Pelatihan diselenggarakan oleh Fakultas Hukum pada 31 Oktober 2019, bertempat di Conference Room Gedung Yustisia 2. Pembicara pada seminar kali ini adalah Dr. Mohd. Hazmi Mohd. Rusli dari Universiti Sains Islam Malaysia.

Bapak Hazmi menekankan bahwa untuk menembus publikasi di jurnal internasional bereputasi, seorang akademisi harus menempuh program S3 terlebih dahulu. Tanpa menempuh program doktoral, sangat sulit untuk memperoleh pengakuan internasional. Selanjutnya, seorang akademisi harus paham dalam menggunakan Mendeley. Oleh karena itu, Bapak Hazmi memberikan contoh tahap-tahap memakai aplikasi Mendeley.

Bapak Hazmi juga menceritakan pengalaman penolakan naskah jurnal karena bahasa Inggris yang tidak tepat. Orang-orang yang tidak menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa utama seringkali kesulitan menembus jurnal internasional. Oleh karena itu, kita harus menabung untuk membayar proofreading yang bisa mencapai 20 juta, misalnya melalui https://www.eliteediting.com.au/. Biaya tersebut tergolong besar, namun akan sangat bermanfaat bagi masa depan akademis kita untuk menembus jurnal internasional bereputasi.

Terima kasih kepada Fakultas Hukum atas undangan dan terselenggaranya acara ini. HI hebat!

Lokakarya Kurikulum Jurusan HI: Bersiap Menghadapi Model Pendidikan 4.0

Lokakarya Kurikulum Jurusan HI: Bersiap Menghadapi Model Pendidikan 4.0

Untuk memperkuat sistem dan model pembelajaran di Jurusan Hubungan Internasional, Gugus Kendali Mutu (GKM) jurusan mengadakan lokakarya kurikulum pada hari Selasa, 29 Oktober 2019, di Libero Café. Lokakarya ini menghadirkan dua pembicara, yaitu Bapak Tri Nugroho Adi, M.Si dari internal selaku perwakilan dari Lembaga Pengembangan Pembelajaran Penjaminan Mutu (LPPPM) Universitas Jenderal Soedirman, dan Ibu Baiq Wardhani, Ph.D dari eksternal selaku perwakilan dari Asosiasi Ilmu Hubungan Internasional indonesia (AIHII).

Lokakarya ini dibuka oleh Wakil Dekan II FISIP Dr. Wahyuningrat mewakili Dekan yang berhalangan hadir. Dalam sambutannya, Wadek II memberikan apresiasi yang besar kepada para pembicara dan Jurusan HI, serta alumni HI yang telah memasuki kementerian-kementerian favorit seperti Kementerian Luar Negeri, Kementerian Hukum dan HAM, dan lain sebagainya. Fakultas yakin bahwa jurusan ini mempunyai tenaga yang luar biasa untuk menghadirkan perubahan. Beliau menambahkan, kurikulum harus menjadi instrumen utama untuk bertanggung jawab pada publik sehingga bisa sejalan dengan profil lulusan/ alumni.

Pembicara pertama, Bapak Tri Nugroho Adi, M.Si. menyampaikan dasar perubahan kurikulum dari Kementerian Pendidikan Tinggi yang mencakup perkembangan ilmu pengetahuan, kebijakan pemerintah, kebutuhan pengguna lulusan, evaluasi kurikulum yang sedang berjalan, dan pendidikan 4.0. Tambahan dari kementerian adalah fokus pada pendidikan 4.0. Caranya, kuliah memakai teknologi, seperti memakai Eldiru atau memakai telepon genggam di kelas. Dosen dilegalkan untuk memakai empat pertemuan dengan model pembelajaran jarak jauh. Perubahan kurikulum sangat penting karena kita tidak boleh memberikan ilmu yang tidak menjamin masa depan kerja mahasiswa.

Sementara itu, pembicara kedua, Ibu Baiq Wardhani, Ph.D lebih mengevaluasi kaitan antara visi-misi jurusan dengan kurikulum jurusan. Ibu Baiq menegaskan bahwa Jurusan HI harus memiliki perbedaan karakteristik dengan Jurusan HI di universitas lain. Jadi, jika kementerian atau perusahaan mencari profil lulusan dengan kemampuan tertentu, maka lulusan Jurusan HI dari Universitas Jenderal Soedirman yang dicari. Oleh karena itu, Jurusan HI harus memperbaiki beberapa hal, seperti profil lulusan, deskripsi kemampuan profil lulusan, serta penyesuaian mata kuliah yang ditawarkan dengan visi-misi universitas, fakultas, dan jurusan.

Semoga kurikulum baru Jurusan HI merupakan kurikulum yang mampu beradaptasi dengan tren saat ini dan mampu memaksimalkan pendidikan 4.0. HI hebat!

Partisipasi Insignia Journal of International Relations dalam Pelatihan Akreditasi dan Reakreditasi Jurnal Ilmiah

Partisipasi Insignia Journal of International Relations dalam Pelatihan Akreditasi dan Reakreditasi Jurnal Ilmiah

Tim Jurnal Universitas Jenderal Soedirman kembali mengadakan pelatihan bagi para pengelola jurnal ilmiah di internal Universitas Jenderal Soedirman bertema Workshop Persiapan Akreditasi dan Reakreditasi Jurnal Ilmiah Unsoed”. Pelatihan diselenggarakan pada hari Senin, 21 Oktober 2019, di Ruang Rapat Rektorat Lantai 1. Pembicara dalam acara ini adalah Adi Darmawan, Ph.D, Kepala Editor Jurnal Kimia Sains dan Teknologi dari Universitas Diponegoro.

Acara dibuka oleh Wakil Rektor Bidang Akademik Prof. Akhmad Sodiq dan Ketua Tim Jurnal Dr. Amin Fatoni. Keduanya menyampaikan harapan agar tim jurnal terus bersemangat dalam mengelola karya-karya ilmiah dan memajukan nama universitas sebagai kampus akademis. Universitas sendiri memiliki target 50% jurnal mencapai minimal Sinta 2. Perwakilan dari Insignia Journal of International Relations dalam acara ini adalah Arief Bakhtiar D., M.A. Hadir pula Dr. Edi Santoso perwakilan dari Jurnal Acta Diurna, Dr. Slamet Rosyadi perwakilan dari Jurnal Public Policy and Management Inquiry, dan Itsna Hidayatul H., M.Si. dari Jurnal Widya Komunika.

Dalam lokakarya tersebut, Pak Adi Darmawan, Ph.D menyampaikan pentingnya jurnal akreditasi bagi pengelola, dosen, maupun universitas. Bagi pengelola, akreditasi tinggi yang diperoleh bisa meningkatkan jumlah naskah yang masuk, meningkatkan kepercayaan kontributor, serta meningkatkan pendapatan bagi tim jurnal. Bagi dosen dan universitas, jika jurnal bisa terindeks secara internasional, hal itu bisa meningkatkan peluang untuk berkolaborasi dengan peneliti lain dari seluruh dunia.

Oleh karena itu, kampus dari level universitas, fakultas, dan jurusan harus memberikan dukungan baik moral maupun material kepada para pengelola jurnal. Pelatihan seperti ini perlu terus diselenggarakan secara berkala. HI hebat!

Kuliah Praktisi: Pengalaman Dr. Ito Sumardi, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar 2014-2019

Kuliah Praktisi: Pengalaman Dr. Ito Sumardi, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar 2014-2019

Jurusan Hubungan Internasional (HI) kembali mengadakan kuliah praktisi. Kali ini, pembicara yang didatangkan ke Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) adalah Dr. Ito Sumardi, Duta Besar Indonesia untuk Myanmar 2014-2019, dengan moderator dosen Jurusan HI Tundjung Linggarwati, M.Si. Beliau pernah menjabat sebagai kepala badan reserse dan kriminal (Kabareskrim) Polri dan saat ini juga menjadi komisaris perusahaan besar Indonesia seperti JAPFA yang memiliki beberapa cabang di luar negeri. Dalam mengemban jabatan sebagai duta besar, Dr. Ito Sumardi pernah dianugerahi Hassan Wirajuda Award sebagai bentuk penghargaan atas prestasi-prestasi beliau.

Pada tanggal 16 Oktober 2019, di aula FISIP, Dr. Ito Sumardi menyampaikan pengalamannya sebagai duta besar Indonesia yang membawa visi-misi politik luar negeri Indonesia di Myanmar. Acara ini dibuka oleh Ketua Jurusan Dr. Agus Haryanto, Dekan FISIP Dr. Jarot Santoso, dan Wakil Rektor II Dr. Kuat Puji Prayitno. Di awal paparannya, Pak Ito menyampaikan bahwa Indonesia memiliki visi nasional yang terkait dengan pangan, energi, maritim, industri, dan infrastruktur. Dari kelima visi tersebut, prioritas pemerintah adalah ekonomi. Hal itulah yang beliau pegang ketika menjadi duta besar, yaitu meningkatkan perdagangan Indonesia dengan Myanmar.

Myanmar merupakan negara yang sangat penting bagi Indonesia. Myanmar, misalnya, mendukung kemerdekaan RI. Myanmar juga memiliki potensi sumber daya alam yang sayangnya belum dimanfaatkan secara optimal oleh pengusaha Indonesia. Sementara itu, peran dan jasa Indonesia sangat besar dalam hal demokrasi dan pemilu. Indonesia juga menentang sanksi ekonomi terhadap Myanmar.

Pak Ito menceritakan bahwa Myanmar merupakan negara yang memiliki kemampuan luar biasa dalam hal pertanian, misalnya mengenai produksi beras. Myanmar juga tempat yang aman, tidak seperti yang diberitakan. Orang-orang Myanmar sangat hormat dan sopan terhadap orang Indonesia. Ketika masalah Rohingnya membuat situasi Indonesia bergolak, terutama dari sisi kelompok Islam, Indonesia berinisiatif untuk membantu menyelesaikan persoalan. Namun, Indonesia tidak mau hanyut dalam opini Organisasi Kerja Sama Islam dan masyarakat yang mencap buruk pemerintah Myanmar.

Dalam menangani isu Rohingya di Myanmar, diplomat Indonesia menggunakan strategi seperti constructive engagement, megaphone diplomacy, inclusive approach, dan prinsip non-intervensi. Indonesia tidak hanya berniat membantu Rohingya, tetapi juga ingin membantu Myanmar lepas dari masalah tersebut. Oleh karena itu, Myanmar menyambut baik saran dan bantuan Indonesia.

Mudah-mudahan acara ini membawa kerja sama yang lebih erat antara Kementerian Luar Negeri RI dan Jurusan HI. Pak Ito sendiri mendorong Jurusan HI untuk menjalin MoU dengan Kemenlu RI agar mahasiswa Universitas Jenderal Soedirman bisa magang di berbagai KBRI di seluruh dunia. HI hebat!

Dosen Jurusan HI Menghadiri Konferensi Internasional Bertema Human Rights in Southeast Asia: Theory Meets Practice

Dosen Jurusan HI Menghadiri Konferensi Internasional Bertema Human Rights in Southeast Asia: Theory Meets Practice

Pada tahun ke-4 penyelenggaraan konferensi hak asasi manusia dengan tema Human Rights in Southeast Asia: Theory Meets Practice, dosen Jurusan Hubungan Internasional Sri Wijayanti, M.Si dan Nurul Azizah Zayzda, M.A. membawakan makalah mereka yang terpilih untuk dipresentasikan di sesi Paralel. Makalah ini berjudul Left-Behind Children’s Rights as a norm in ASEAN: Preliminary Study dan memberikan analisis mengenai bagaimana hak anak pekerja migran yang dirawat oleh anggota keluarga lainnya saat orang tua bekerja di luar negeri. Selagi norma mengenai hak anak ditemukan dengan adanya ratifikasi Convention on the Rights of the Child oleh ke-10 anggota ASEAN, norma hak left-behind children masih membutuhkan perhatian khusus.

Ini merupakan tahun kedua perwakilan dosen Jurusan Hubungan Internasional Universitas Jenderal Soedirman mengikuti Annual Conference of Human Rights yang tahun inj diadakan oleh Center for Human Rights, Migration and Multiculturalism Universitas Jember bekerjasama dengan Sydney Southeast Asia Center, University of Sydney.

Partisipasi Jurusan HI dalam UNSOED Expo 2019

Partisipasi Jurusan HI dalam UNSOED Expo 2019

Jurusan Hubungan Internasional turut berpartisipasi dalam memeriahkan stan FISIP dalam UNSOED Expo 2019. UNSOED Expo 2019 berlangsung dari tanggal 9-12 Oktober 2019. Baik dosen maupun mahasiswa Jurusan HI berupaya untuk menghadirkan semangat akademik dan non-akademik dalam Expo kali ini. Dari dosen, Sri Wijayanti, S.IP., M.Si. dan Nuriyeni Bintarsari, S.IP., M.A. tampil dalam FISIP TV untuk mengenalkan aktivitas-aktivitas di jurusan, sementara dari mahasiswa, Yusuf Evendi dan Fitris Suniarti menghadirkan tema Declaration of Human Rights dalam bincang-bincang mereka.

Dalam FISIP TV, Jurusan HI menampilkan kegiatan-kegiatan dosen, kegiatan mahasiswa, maupun berbagai prestasi jurusan selama ini. Video-video mengenai kegiatan tersebut telah terdokumentasi dengan baik. Selamat juga untuk stan FISIP yang menjadi juara 1 dalam Expo kali ini. HI hebat!

Follow by Email
Twitter
Visit Us
Instagram