counter easy hit
bahis bahis atlasbet baysansli bet10bet betkolik betsidney fashionbet gorabet holiganbet odeonbet romabet betasus betdoksan betgarden btcbahis casinoper casinovale coinbar eurocasino kazansana lesabahis mottobet trcasino trendbet nerobet bahistek

1_20Delegasi Hubungan Internasional FISIP Unsoed kembali menorehkan prestasi dalam pertemuan mahasiswa tingkat nasional. Dalam Pertemuan Sela Nasional Mahasiswa Hubungan Internasional se-Indonesia (PSNMHII) XXIX yang diselenggarakan Forum Komunikasi Mahasiswa Hubungan Internasional Indonesia (FKMHII) di Cimahi, Jawab Barat, pada 7-11 Mei 2017, delegasi Chamber Presentation yang diwakili oleh Nadya dan Annisa Dwianna Putri meraih juara I. Selain itu, delegasi chamber Video Competition yang diwakili oleh Tri Andika Nugraha dan Alif Fitrah Bagaskara meraih juara ke-5. Pengumuman dilakukan pada tanggal 10 Mei 2017 di Aula Sasanakrida saat malam puncak acara PSNMHII XXIX.

Sehari sebelumnya, dalam acara yang bertempat di Universitas Jenderal Achmad Yani, delegasi Hubungan Internasional Unsoed menampilkan paper ilmiah berjudul Smart Power Indonesia terhadap Negara-negara Anggota Melanesian Spearhead Group dalam Isu Separatisme Papua Barat di hadapan tiga dewan juri yang terdiri dari dua perwakilan kementrian luar negeri, satu dosen hubungan internasional Universitas Jenderal Achmad Yani. Pemilihan judul tersebut sesuai dengan tema besar acara PSNMHII XXIX yaitu The Discourse of Indonesia’s Matters: Smart Power, Possibility or Mission Impossible.

Menurut Nadya, berdasarkan tema tersebut, pasangan delegasi dari Unsoed ini ingin mengkaji kemampuan Indonesia dalam melakukan diplomasi. Selama ini, gerakan separatis Papua Barat didukung oleh negara-negara anggota Melanesian Spearhead Group. Negara-negara seperti Vanuatu, Fiji, Kep. Salomon, dan lainnya kecewa dengan pemerintah Indonesia yang tidak menyelesaikan kasus pelangggaran HAM di Papua Barat. Pemerintah menyadari bahwa dukungan tersebut bisa mempengaruhi besarnya gerakan separatisme Papua Barat.

Apa yang bisa dilakukan Indonesia untuk mencegah efek yang lebih buruk dari gerakan separatis tersebut? Nadya dan Annisa mengamati bahwa Indonesia mampu mengatasi persoalan tersebut karena Indonesia memiliki smart power, baik melalui militer maupun budaya. Menurut Joseph Nye, smart power merupakan penggabungan antara hard power maupun soft power sehingga negara memiliki kemampuan untuk menggunakan kekuatan tersebut sesuai dengan kondisi tertentu. Indonesia melakukan seminar kebudayaan di salah satu negara Melanesia. Dalam konteks kasus Papua Barat, Indonesia mengeluarkan beberapa kebijakan seperti otonomi khusus, peningkatan kesejahteraan, serta program Pembangunan Percepatan Papua Barat. Dalam lingkup luar, Indonesia pun melakukan restorasi Victoria School di Fiji yang terkena bencana alam. Dengan demikian, gerakan separatis tidak berkembang dan semakin kuat.

Nadya berharap bahwa HI Unsoed mempertahankan pencapaian yang telah diraih dan tidak hanya unggul dalam bidang penulisan paper ilmiah. HI hebat!

Please follow and like us:
Pin Share
RSS
YouTube
Instagram
SOCIALICON