Pelatihan Peer Educator di SMK Swagaya untuk Pembelajaran Migrasi Aman
Apa itu migrasi aman? Apa risiko dari migrasi tidak aman? Migrasi aman adalah proses migrasi yang dilakukan sesuai dengan prosedur berdasarkan hukum yang berlaku. Prosedur ini meliputi dokumen yang wajib dilengkapi, kegiatan yang harus dilakukan seperti pelatihan dan tes kesehatan (bagi migran yang ingin bekerja), beserta moda transportasi yang digunakan. Proses migrasi aman berisiko ketika imigran tidak mengikuti prosedur tersebut dan kemudian menghadapi masalah dengan yang berwajib atau masalah-masalah turunan.
Berangkat dari kenyataan bahwa Banyumas merupakan salah satu daerah asal Buruh Migran Indonesia (BMI) dengan jumlah terbanyak di Indonesia, diperlukan pendidikan khusus mengenai migrasi aman agar para buruh migran terhindar dari masalah yang diakibatkan migrasi yang tidak aman. Siswa usia SMK adalah salah satu kelompok yang rawan migrasi tidak aman dimana lulusan SMK sering mendapat tawaran untuk bekerja di luar negeri.

Mengingat perlunya pendidikan migrasi aman, tim pengabdian Hubungan Internasional UNSOED melakukan pelatihan Peer Educator di SMK Swagaya 1 Purwokerto mengenai migrasi aman. Tim pengabdian diketuai Nurul Zayzda, anggota Sri Wijayanti dan Muhammad Yamin. Pada kegiatan ini, turut mendampingi siswa adalah Mayza Hazrina, Arief Bachtiar Darmawan, Lintang Handayani dan Galih Anggita. Pelatihan dilakukan dengan lebih spesifik untuk mengajar siswa menjadi peer educator atau pengajar bagi teman sebaya. Pelatihan dilakukan dalam beberapa tahapan.
Tahapan pertama adalah pemberian materi mengenai prosedur migrasi aman. Materi disampaikan oleh Ibu Dr. Tyas Retno Wulan, pengajar Sosiologi FISIP UNSOED dan ketua Pusat Penelitian Gender dan Anak Pengabdian Masyarakat. Pada kesempatan ini, Dr. Tyas menyampaikan prosedur-prosedur yang harus dilalui seseorang yang akan bekerja ke luar negeri, dan contoh-contoh kasus yang dihadapi buruh migran selama ini. Dalam sesi ini dijelaskan pula mengenai hak-hak seorang buruh migran yang sudah diakui secara internasional. Hak yang paling mendasar antara lain adalah hak mendapat gaji sesuai dengan pekerjaan, hak untuk bebas dari diskriminasi, hak untuk bebas dari kekerasan, hak berorganisasi, hak untuk mendapat hari libur, dan lain-lain.

Setelah pembelajaran materi dari Dr. Tyas, siswa melakukan pendalaman materi dengan metode roleplay. Dalam sesi roleplay, siswa dibagi kedalam beberapa kelompok dan diminta untuk bermain peran dengan beberapa topik yang berbeda-beda. Tema-tema yang dimainkan dalam roleplay ini adalah sebagai berikut:
- Memahami prosedur migrasi aman
- Mengenali agen perekrutan illegal
- Mengenali budaya dan hukum negara tujuan
- Mengenali hak-hak buruh migran

Dengan melakukan roleplay, siswa melihat bentuk-bentuk situasi yang mungkin dihadapi seorang pekerja migran.
Bagian selanjutnya dari pelatihan ini adalah pembuatan Rencana Tindak Lanjut (RTL) dengan melibatkan partisipasi aktif siswa. Rencana Tindak Lanjut terdiri dari aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan siswa untuk lebih jauh membagikan pengetahuan mengenai migrasi aman. Dari sesi pembuatan RTL ini dihasilkan beberapa aktivitas berikut:
- Pembuatan mading kelas
- Membagikan informasi migrasi aman dari mulut ke mulut
- Membagikan informasi migrasi aman melalui media sosial
- Memasukkan materi migrasi aman dalam pelatihan LDK OSIS
- Memasukkan materi migrasi aman dalam kegiatan PLS pada masa orientasi siswa baru
- Memasang poster di tempat yang bisa dilihat siswa
- Mengadakan lomba mading antar kelas pada Perayaan Ulang Tahun sekolah.

Kampanye melalui media sosial dilakukan dengan menggunakan instagram dengan tagar #migrasiaman2017 dan #antitrafficking

Pada hari Rabu, 24 Mei 2017, Prof. Andrik Purwasito, Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Negeri Surakarta, menyampaikan kuliah umum yang berjudul Anonimus: Paradigma Panggung Wayang (“Theater Shadow Paradigm”) sebagai Model Analisis Hubungan Internasional di aula FISIP Unsoed. Beliau merupakan dosen sekaligus ketua jurusan Hubungan Internasional Universitas Negeri Surakarta. Beliau juga merupakan seorang dalang yang berpengalaman tampil di luar negeri, seperti India, Rumania, Moldova, Bulgaria, Rusia, dan Jepang.
Andika Dewantara, salah satu mahasiswa, menanyakan bagaimana cara agar soft-power diplomacy Indonesia bisa berhasil di luar negeri. Prof. Andrik menjawab bahwa jika kita memakai soft-power dalam bidang politik, maka jatuhnya adalah menang dan kalah. Indonesia ada kemungkinan kalah. Begitu pula jika Indonesia memakai soft-power dalam bidang ekonomi, kita kemungkinan kalah karena jatuhnya kalah dan menang. Namun, jika cara yang kita pakai dalam soft-power diplomacy adalah melalui budaya, kita bisa sama-sama diuntungkan karena kita sama-sama senang menikmati budaya yang kita tampilkan tersebut.
Dengan bangga, mahasiswa jurusan Hubungan Internasional mempersembahkan: festival Globalisasi bertemakan “Dystopian Land”. Gratis. Hadiri pameran foto esai, poster, iklan layanan masyarakat dan film dokumenter dari berbagai sudut pandang, seperti gender, kemiskinan, pembangunan global, dan komunikasi internasional. Gratis.
Pada tanggal 18 Mei 2017, Jurusan Hubungan Internasional mengadakan kuliah umum politik luar negeri Indonesia yang diisi oleh Profesor Abubakar Ebihara. Beliau merupakan dosen Universitas Jember dan pernah menjadi dosen tamu di Universitas Utara, Malaysia.
Peserta lain, Zakie Andiko Ramadhani, menanyakan bagaimana melihat konstruktivisme dala menganalisis kebijakan suatu negara. Profesor Ebi langsung mencontohkan Presiden Soeharto dan para pendukungnya (seperti Soemitro, Emil Salim, atau Adam Malik) yang memiliki ide pembangunan, yaitu bahwa perilaku Indonesia harus diartikan ke arah kepentingan nasional. Yang penting kuat dulu di dalam, nanti baru aktif ke luar. Dalam ide pembangunan ini, politik luar negeri harus konkret, bukan seperti Bung Karno yang flamboyan, banyak bunga-bunga.
Dalam kata sambutannya, Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Abdurrahman Mohammad Fachir mengatakan mengenai fenomena atau realitas masa kini mengenai gaya hidup masyarakat yang berubah. Realitas pertama, era digitalisasi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Kedua, kita bisa memiliki teman yang bahkan belum pernah kita temui. Era digital memungkinkan orang yang tidak dikenal sebelumnya untuk menjadi presiden, misalnya dalam kasus Presiden Obama. Media sosial bahkan memiliki andil dalam kejatuhan Husni Mubarak. Ketiga, pada masa kini, informasi bisa cepat diketahui dan cepat tersebar. Keempat, teknologi informasi bisa membingungkan karena banyak informasi yang datang kepada kita.