Dosen Jurusan HI Mengawal KKN UNSOED

IMG_9145 Empat dosen Jurusan Hubungan Internasional Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED) menjadi dosen pembimbing lapangan Kuliah Kerja Nyata (KKN) UNSOED. Empat dosen tersebut adalah Dr. Agus Haryanto, Nurul Azizah Zayda, M.A., Sri Wijayanti, M.Si., Ayusia Sabhita, M.Soc.Sc. KKN UNSOED merupakan program universitas yang berlangsung dari 25 Juli sampai 28 Agustus 2017.

Keempat dosen tersebut membimbing para mahasiswa KKN UNSOED di wilayah Jawa Tengah, seperti Kabupaten Banjarnegara dan Kabupaten Wonosobo. Dr. Agus Haryanto menjadi dosen pembimbing lapangan KKN di Desa Wanareja, Kecamatan Wanayasa, Banjarnegara. Nurul Azizah Zayda, M.A. menjadi dosen pembimbing lapangan KKN di Desa Gondang, Kecamatan Watumalang, Wonosobo. Sri Wijayanti, M.Si. menjadi dosen pembimbing lapangan KKN di Desa Ngadikusuman, Kecamatan Kretek, Wonosobo. Sementara Ayusia Sabhita Kusuma, M.Soc.Sc. menjadi dosen pembibing lapangan KKN di Desa Mergosari, Kecamatan Sukoharjo.

Dalam KKN yang berlangsung sekitar sebulan tersebut, keempat dosen tersebut wajib melakukan kunjungan ke desa KKN. Untuk unit mahasiswa yang dibimbing Dr. Agus Haryanto, dosen wajib datang minimal tiga kali. Sementara itu, untuk unit mahasiswa yang dibimbing oleh Nurul Azizah Zayda, M.A., Sri Wijayanti, M.Si., dan Ayusia Sabhita, M.Soc.Sc, dosen wajib datang minimal lima kali.

Perbedaan di atas berkaitan dengan tema KKN yang berbeda. Program KKN di Wonosobo yang dilaksanakan di bawah bimbingan Nurul Azizah Zayda, M.A., Sri Wijayanti, M.Si., dan Ayusia Sabhita, M.Soc.Sc merupakan KKN Tematik Desa Peduli Buruh Migran (Desbumi). Program ini diikuti 93 mahasiswa di 10 desa dan merupakan program kerja sama antara Pusat Penelitian Gender dan Anak, Migrant Care, dan Kemitraan Australia-Indonesia untuk Kesetaraan Gender dan Pemberdayaan Perempuan (MAMPU). Program utama dari kerja sama tersebut adalah menciptakan desa yang peduli terhadap buruh migran.IMG_9146

Kunjungan pertama yang telah dilaksanakan oleh keempat dosen pembimbing adalah pelepasan mahasiswa di desa KKN. Sementara kunjungan kedua yang akan dilaksanakan dalam waktu dekat merupakan kunjungan untuk pemantapan program dan pengawasan.

Semoga HI dapat terus memberikan manfaat bagi kemajuan UNSOED dan masyarakat di sekitarnya sesuai dengan visi UNSOED.

HI hebat!

Halal bihalal Keluarga Besar Hubungan Internasional

IMG_9008Pada hari Jumat, 14 Juli 2017, keluarga besar Hubungan Internasional yang diinisiasi oleh Korps Mahasiswa HI (KOMAHI) mengadakan acara halal bihalal di Ruang Sidang HI FISIP UNSOED. Acara tersebut dihadiri oleh para dosen dan mahasiswa HI UNSOED berbagai angkatan, seperti angkatan 2012, 2013, 2014, 2015, dan 2016.

Dalam acara tersebut, Ketua Jurusan Muhammad Yamin dan Pembina KOMAHI Soni Martin menyampaikan sambutan dari pihak jurusan yang mengapresiasi acara tersebut. Ini merupakan acara yang sangat baik karena tahun lalu keluarga besar HI tidak mengadakan acara halal bihalal. Acara ini diharapkan mempererat hubungan antara dosen dan mahasiswa, serta mempererat silaturahim mahasiswa HI antarangkatan.

Setelah itu, acara diawali dengan kultum dari Yopi, perwakilan mahasiswa HI angkatan 2014. Selanjutnya, acara diisi dengan pemaparan pengalaman KKN dari Radit Dwiyanto dan Galih Anggita yang merupakan perwakilan dari mahasiswa HI angkatan 2013. Kita berharap tahun depan acara serupa dapat diadakan kembali.

HI hebat!

Pelatihan Peer Educator di SMK Swagaya untuk Pembelajaran Migrasi Aman

Apa itu migrasi aman? Apa risiko dari migrasi tidak aman? Migrasi aman adalah proses migrasi yang dilakukan sesuai dengan prosedur berdasarkan hukum yang berlaku. Prosedur ini meliputi dokumen yang wajib dilengkapi, kegiatan yang harus dilakukan seperti pelatihan dan tes kesehatan (bagi migran yang ingin bekerja), beserta moda transportasi yang digunakan. Proses migrasi aman berisiko ketika imigran tidak mengikuti prosedur tersebut dan kemudian menghadapi masalah dengan yang berwajib atau masalah-masalah turunan.

Berangkat dari kenyataan bahwa Banyumas merupakan salah satu daerah asal Buruh Migran Indonesia (BMI) dengan jumlah terbanyak di Indonesia, diperlukan pendidikan khusus mengenai migrasi aman agar para buruh migran terhindar dari masalah yang diakibatkan migrasi yang tidak aman. Siswa usia SMK adalah salah satu kelompok yang rawan migrasi tidak aman dimana lulusan SMK sering mendapat tawaran untuk bekerja di luar negeri.

IMG_20170613_080229

Mengingat perlunya pendidikan migrasi aman, tim pengabdian Hubungan Internasional UNSOED melakukan pelatihan Peer Educator di SMK Swagaya 1 Purwokerto mengenai migrasi aman. Tim pengabdian diketuai Nurul Zayzda, anggota Sri Wijayanti dan Muhammad Yamin. Pada kegiatan ini, turut mendampingi siswa adalah Mayza Hazrina, Arief Bachtiar Darmawan, Lintang Handayani dan Galih Anggita. Pelatihan dilakukan dengan lebih spesifik untuk mengajar siswa menjadi peer educator atau pengajar bagi teman sebaya. Pelatihan dilakukan dalam beberapa tahapan.

Tahapan pertama adalah pemberian materi mengenai prosedur migrasi aman. Materi disampaikan oleh Ibu Dr. Tyas Retno Wulan, pengajar Sosiologi FISIP UNSOED dan ketua Pusat Penelitian Gender dan Anak Pengabdian Masyarakat.  Pada kesempatan ini, Dr. Tyas menyampaikan prosedur-prosedur yang harus dilalui seseorang yang akan bekerja ke luar negeri, dan contoh-contoh kasus yang dihadapi buruh migran selama ini. Dalam sesi ini dijelaskan pula mengenai hak-hak seorang buruh migran yang sudah diakui secara internasional. Hak yang paling mendasar antara lain adalah hak mendapat gaji sesuai dengan pekerjaan, hak untuk bebas dari diskriminasi, hak untuk bebas dari kekerasan, hak berorganisasi, hak untuk mendapat hari libur, dan lain-lain.

IMG_20170613_095808
Dr. Tyas Retno Wulan memberikan materi

Setelah pembelajaran materi dari Dr. Tyas, siswa melakukan pendalaman materi dengan metode roleplay. Dalam sesi roleplay, siswa dibagi kedalam beberapa kelompok dan diminta untuk bermain peran dengan beberapa topik yang berbeda-beda. Tema-tema yang dimainkan dalam roleplay ini adalah sebagai berikut:

  1. Memahami prosedur migrasi aman
  2. Mengenali agen perekrutan illegal
  3. Mengenali budaya dan hukum negara tujuan
  4. Mengenali hak-hak buruh migran
IMG_20170613_104754
Roleplay mahasiswa

Dengan melakukan roleplay, siswa melihat bentuk-bentuk situasi yang mungkin dihadapi seorang pekerja migran.

Bagian selanjutnya dari pelatihan ini adalah pembuatan Rencana Tindak Lanjut (RTL) dengan melibatkan partisipasi aktif siswa. Rencana Tindak Lanjut terdiri dari aktivitas-aktivitas yang akan dilakukan siswa untuk lebih jauh membagikan pengetahuan mengenai migrasi aman. Dari sesi pembuatan RTL ini dihasilkan beberapa aktivitas berikut:

  1. Pembuatan mading kelas
  2. Membagikan informasi migrasi aman dari mulut ke mulut
  3. Membagikan informasi migrasi aman melalui media sosial
  4. Memasukkan materi migrasi aman dalam pelatihan LDK OSIS
  5. Memasukkan materi migrasi aman dalam kegiatan PLS pada masa orientasi siswa baru
  6. Memasang poster di tempat yang bisa dilihat siswa
  7. Mengadakan lomba mading antar kelas pada Perayaan Ulang Tahun sekolah.
IMG_20170613_121636
Rencana Tindak Lanjut Siswa

 

Kampanye melalui media sosial dilakukan dengan menggunakan instagram dengan tagar #migrasiaman2017 dan #antitrafficking

Audiensi Mahasiswa-Dosen UNSOED

Menanggapi kebutuhan mahasiswa untuk menyampaikan aspirasinya dan kebutuhan Jurusan untuk mendapat masukan konstruktif dari mahasiswa, Korps Mahasiswa Hubungan Internasional Universitas Jenderal Soedirman mengadakan audiensi rutin antara Dosen dan mahasiswa pada hari rabu, 7 Juni lalu. Audiensi ini dihadiri oleh Bapak Muhammad Yamin selaku Ketua Jurusan, Ibu Sri Wijayanti selaku sekretaris Jurusan dan Nurul Zayzda dan Mayza Ashshafik sebagai perwakilan dari Dosen. Terdapat perwakilan mahasiswa dari angkatan 2014, 2015 dan 2016 yang hadir dan menyampaikan pertanyaan atau masukannya. Format kegiatan ini disusun secara semi-formal, sehingga pertukaran pemikiran dosen-mahasiswa dilakukan dengan terbuka.

 

Secara garis besar, mahasiswa menyampaikan kesulitan dalam belajar, motivasi dalam mengikuti kegiatan-kegiatan akademis di luar kuliah, metode mengajar Dosen yang berbeda, ruangan belajar umum untuk mahasiswa, serta bagaimana Jurusan mengorganisir kuliah umum untuk mahasiswa. Di samping itu mahasiswa menanyakan mengenai kesempatan magang, kelanjutan kelas bilingual, dan harapan Jurusan kepada mahasiswa HI. Dalam kesempatan ini pengurus Jurusan menerima masukan dari mahasiswa dan menjelaskan situasi terkini mengenai masalah-masalah tersebut.

 

Simulasi Sidang ASEAN Regional Forum 2017

Jurusan Hubungan Internasional mengadakan kegiatan Simulasi Sidang ASEAN Regional Forum yang diselenggarakan sepanjang semester dengan puncaknya berupa penilaian sidang yang dilaksanakan selama 4 hari, yaitu pada tanggal 8-9 Juni 2017 dan 14-15 Juni 2017. Simulasi sidang ini diikuti oleh mahasiswa Hubungan Internasional angkatan 2016, sebagai bentuk praktikum mata kuliah Organisasi dan Administrasi Internasional.

Simulasi sidang ini menggunakan model ASEAN Regional Forum dimana 18 negara, yaitu 10 negara anggota ASEAN (Indonesia, Singapura, Malaysia, Thailand, Filipina, Brunei Darussalam, Myanmar, Kamboja, Laos, dan Vietnam) dan 8 negara partner (Amerika Serikat, Uni Eropa, Jepang, India, Rusia, Tiongkok, Korea Selatan, dan Australia) mengulas permasalahan yang terjadi di kawasan Asia Tenggara. Simulasi sidang yang diadakan pada semester ini mengusung tema “The Architecture of Southeast Asia Regional Security” dan membuka diskusi terhadap permasalahan kejahatan lintas negara (transnational crime), terorisme, dan keamanan maritim yang terjadi di sekitar kawasan Asia Tenggara.

Rangkaian kegiatan simulasi sidang ini merupakan bagian dari kegiatan mata kuliah Organisasi dan Administrasi Internasional yang dapat disaksikan oleh umum secara gratis. Simulasi ini diselenggarakan di Ruang Sidang Internasional FISIP UNSOED. Pada simulasi ini, mahasiswa berperan sebagai delegasi yang mewakili negara-negara yang mengikuti ASEAN Regional Forum. Mahasiswa harus membawakan mosi yang sesuai dengan sudut pandang masing-masing negara yang diwakilinya dalam diskusi. Seluruh rangkaian simulasi sidang dirancang dan dibawakan semirip mungkin dengan ASEAN Regional Forum yang sebenarnya dengan sistem dan cara-cara diplomasi yang telah diajarkan sepanjang perkuliahan sebelumnya.

Seperti delegasi negara pada forum multilateral yang sesungguhnya, mahasiswa mengenakan formal busines attire (FBA) dan menggunakan bahasa inggris sebagai bahasa percakapan dalam sidang. Simulasi sidang ini dibuka oleh Wakil Dekan II, Dr. Muslih Faozanudin, M.Si dengan melakukan roll call. Selama empat hari, simulasi sidang akan dilaksanakan oleh dua kelas, dimana masing-masing kelas memiliki waktu dua hari untuk melaksanakan rangkaian sidang secara utuh. Hari pertama digunakan untuk melakukan identifikasi masalah, sedangkan hari kedua sidang sebagai puncak acara yang akan diselenggarakan pada 14-15 Juni akan digunakan untuk menyampaikan working paper dan membentuk draft resolution.

Simulasi sidang ini merupakan kegiatan rutin yang diadakan oleh jurusan Hubungan Internasional pada setiap semester dengan menggunakan berbagai forum lain seperti WTO sebagai model. Dengan kegiatan ini, mahasiswa dapat merasakan pengalaman menjadi delegasi dan melakukan praktek-praktek diplomasi pada forum-forum multilateral. Praktek ini diharapkan dapat menunjang pemahaman mahasiswa mengenai ilmu-ilmu yang telah dipelajari dalam perkuliahan sebelumnya.

Mengemas Globalisasi Dalam Festival “Dystopian Land”

Mahasiswa Hubungan Internasional menyelenggarakan Festival Globalisasi bertajuk “Dystopian Land” pada 6-7 Juni 2017. Tema ini dipilih karena asumsi mengenai kondisi saat ini yang penuh dengan ketidakpastian, yang apabila dibiarkan akan menjadi semakin besar dan menimbulkan semakin banyak kekacauan, misalnya masyarakat menjadi pribadi asosial, apatis dengan isu-isu sosial dan menyebarnya hoax yang justru dianggap sebagai kebenaran berita. Lewat festival ini, diharapkan mahasiswa dapat berpartisipasi aktif untuk melihat fenomena dystopian di sekitar mereka dan tergerak untuk melakukan perubahan dalam rangka memperbaiki fenomena tersebut melalui berbagai platform media.

Festival ini diikuti oleh seluruh mahasiswa yang mengambil mata kuliah Studi Globalisasi, Gender dalam HI, Politik  Lingkungan, Kemiskinan dan Pembangunan Global, serta Komunikasi Internasional. Festival ini menampilkan 18 photo essays, 6 buah poster berisi beragam pesan dapat disaksikan di pendopo, penayangan 5 iklan masyarakat dan 2 buah film dokumenter, serta kampanye #SaveSlamet dalam bentuk human poster. Terdapat pula media campaign melalui penyebaran #CleanAirForCleanFuture di media sosial termasuk tumblr dan instagram, yang dapat diikuti baik oleh peserta maupun pengunjung sebagai bentuk dukungan terhadap gerakan menuju perubahan lingkungan. Festival ini dapat dinikmati secara gratis di pendopo FISIP dan akan berlangsung selama dua hari festival.

Selain presentasi dan pameran karya dan proyek mahasiswa, diselenggarakan pula diskusi bertajuk “Media di Era Post-Truth” yang dibawakan oleh Wisnu Prasetya Utomo, seorang peneliti dari Remotivi—sebuah LSM terpusat di Jakarta yang bergerak untuk melakukan analisis terhadap berbagai media di Indonesia, termasuk media televisi, media cetak, dan media sosial. Melalui diskusi ini, peserta dan pengunjung diharapkan untuk dapat meningkatkan pemikiran kritis akan isu-isu yang terdapat di media dan cara pemberitaannya, sehingga mampu mendeteksi informasi yang dibuat berdasarkan fakta maupun emosi dan keyakinan personal semata.

Festival ini mampu menarik minat mahasiswa, terbukti melalui beragamnya mahasiswa yang hadir dalam acara ini dan mengikuti rangkaian acara ini dengan antusias hingga selesai. Festival ini memperlihatkan betapa mahasiswa HI mampu membumi, yang diperlihatkan melalui hasil karya mereka.IMG-20170606-WA0059[1] IMG-20170606-WA0020[1] IMG-20170606-WA0012[1] IMG-20170606-WA0051[1] IMG-20170606-WA0059[1] (1)

Jadwal Dystopian Land Fest

  1. Hari Pertama (Selasa, 7 Juni 2017)

09.30-09.35: Pembukaan MC

09.35-09.45: Sambutan ketua panitia

09.45-09.55: Sambutan dekan

9.55-10.05: Watch Your Step (Poster; MK Globalisasi)

10.05-10.15: Diversity is Color of Arts (Poster; MK Globalisasi)

10.15-10.25: Think Before You Click (Poster; MK Globalisasi)

10.25-10.35: Perempuan Juga Sama (?) (ILM; MK Gender)

11.05-11.15: Save Our Reef (Media Campaign; MK Kominter)

11.15-11.25: Clean Air For Clear Future (Media Campaign; Kominter)

11.25-11.45: #SaveSlamet (Creative Campaign; MK Politik Ling. Global)

11.45-12.20: BREAK SHOLAT

12.20-12.40: Dawn of Kelontong (ILM; MK Studi Kemiskinan Kemiskinan)

12.40-12.50: #ASAP (ILM; MK Globalisasi)

12.50-13.00: Aesthetic of Ocean (ILM; MK Globalisasi)

13.00-selesai: Sesi diskusi, tema “Melek Media di Era Globalisasi”; pembicara: Wisnu Prasetya Utomo, peneliti Remotivi.

 

  1. Hari Kedua (Rabu, 8 Juni 2017)

13.00-13.05: Pembukaan MC

13.05-13.35: Me VS Gadget (Film; MK Globalisasi)

13.35-14.05: Trash (Film; MK Globalisasi)

14.05-14.25: Disintegrasi Sosial (Foto Esai; MK Globalisasi)

14.25-14.45: Mencumbu Westernisasi (Foto Esai; MK Globalisasi)

14.45-15.05: Environmental Degradation (Foto Esai; MK Globalisasi)

15.05-15.25: Kentimpangan Sosial (Foto Esai; MK Globalisasi)

15.25-16.00: BREAK SHOLAT

16.00.16.10: No Smoking on Vehicle (Poster; MK Kominter)

16.10-16.20: Put Your Phone Down (Poster; MK Kominter)

16.20-16.30: Faces Of Poverty (Foto Essay; MK Studi Kemiskinan)

16.30-16.40: Foto Essay; MK Studi Kemiskinan

16.40-16.50: ILM; MK Studi Kemiskinan

16.50-Maghrib: Free time (Live Music)

Kuliah Umum Profesor Andrik Purwasito: Menjadi Akademisi HI yang Kritis dan Kontributif terhadap Masyarakat dan Kehidupan Bernegara

IMG_8354Pada hari Rabu, 24 Mei 2017, Prof. Andrik Purwasito, Guru Besar Hubungan Internasional Universitas Negeri Surakarta, menyampaikan kuliah umum yang berjudul Anonimus: Paradigma Panggung Wayang (“Theater Shadow Paradigm”) sebagai Model Analisis Hubungan Internasional di aula FISIP Unsoed. Beliau merupakan dosen sekaligus ketua jurusan Hubungan Internasional Universitas Negeri Surakarta. Beliau juga merupakan seorang dalang yang berpengalaman tampil di luar negeri, seperti India, Rumania, Moldova, Bulgaria, Rusia, dan Jepang.

Dekan FISIP Unsoed Dr. Ali Rokhman, M. Si yang membuka kuliah umum menyatakan bahwa FISIP merasa terhormat Prof. Andrik bersedia datang ke Universitas Jenderal Soedirman untuk berbagi ilmu mengenai Anonimus. Pak Dekan berbagi pengalaman bahwa dirinya yang masuk dalam dua grup WhatsApp mengamati bahwa masing-masing pihak biasanya merasa paling benar. Satu kelompok merasa paling benar, dan satunya juga merasa paling benar. Yang membuat grup-grup WhatsApp tersebut menarik, menurut Pak Dekan, adalah mencari tahu siapa sebenarnya yang menjadi dalang dan wayang. Dr. Ali Rokhman kemudian menceritakan pengalamanya bahwa ketika dirinya mengikuti sesi ke 4 dan ke-5 di acara Lemhanas, peserta tidak diperbolehkan mengambil foto karena terkait dengan rahasia negara yaitu masalah terorisme dan perdagangan manusia. Pertanyaannya, siapa dalang di balik isu-isu tersebut. Oleh karena itu, menurut Pak Dekan, tema Anonimus merupakan tema yang sangat menarik.FullSizeRender

Sebelum kuliah dimulai, Prof. Andrik menyanyikan lagu Lir-Ilir bersama-sama peserta dan memperlihatkan metode pengajaran baru di UNS yang mana beliau mengajar sebagai dalang dalam sebuah pagelaran wayang. Beliau ingin menegaskan bahwa ilmu bisa disampaikan di luar kelas, dengan berbagai cara.

Pada awal kuliah umum, Prof. Andrik menekankan bahwa ilmu itu harus bermanfaat. Oleh sebab itu, ilmu HI harus bermanfaat bagi masyarakat kecil. Contohnya, ilmu HI harus bisa menunjang pedagang dengan memberikan ilmu-ilmu supaya barang dagangan para pedagang kecil tersebut bisa diekspor. Jadi, Hubungan Internasional tidak sekedar sekolah tentang nuklir, pertahanan-keamanan, atau ilmu-imu lain yang teoritis semacam itu. Menurut beliau, sia-sia jika Hubungan Internasional memberikan sesuatu yang tidak aplikatif pada para mahasiswanya.

Prof. Andrik kemudian beranjak pada teori beliau mengenai Sang Anonimus. Sang Anonimus adalah “invisible power who control the world”. Menguasai apa? Pertama, Anonimus menguasai aktor negara (presiden, menteri luar negeri, diplomat) dan aktor kelompok kepentingan (mereka yang suka dibayar). Kedua, Anonimus mengontrol komunikasi, informasi, dan media, yang membuat dunia privat kita terganggu. Misalnya, Siti tadi malam nonton video porno. Nonton video semacam itu barangkali wajar karena anak muda nafsunya menyala-nyala. Tapi kemudian menjadi tidak wajar jika orang lain tahu. Contoh lain, virus WannaCry yang memaksa orang untuk membayar sejumlah uang kepada pembuatnya. Orang bisa diperas karena Anonimus mengontrol informasi. Ketiga, Anonimus mengontrol ekonomi, politik, militer, dan pop-culture.

Semua hal itu dimungkinkan karena, menurut Prof. Andrik, ada mutasi dari citizen ke netizen. Akibatnya, orang bisa menyentuh kita meskipun kita berada di kamar yang terkunci rapat. Misalnya, minta pulsa tinggal minta dari kamar.

Dengan melihat perkembangan tersebut, model analisis panggung wayang bertujuan menguak musuh-musuh tersembunyi dalam hubungan internasional. Dalam analisis ini ada “panggung depan” yang ramah dan sopan. Namun, dalam “panggung belakang”, ada imperialisme yang dilakukan secara halus. Misalnya, di bidang budaya ada motif ekonomi dalam film-film Hollywood. Sang Anonimus membuat global hidden adenda seperti agenda perdamaian dunia, demokratisasi, dan investasi, yang sebenarnya “kuda kroya” yang merusak suatu negara dari dalam.

Sesi tanya jawab yang berlangsung setelah Prof. Andrik berjalan cukup menarik. Rizqy Akbar, misalnya, menanyakan bagaimana cara melepaskan diri dari kontrol sang Anonimus. Prof. Andrik mengatakan bahwa yang paling mudah adalah memakai HP jadul, karena di dalamnya kita tidak memiliki terlalu banyak data yang tersimpan, sehingga identitas kita akan aman. Tentu saja jika kita orang biasa kita tidak perlu khawatir. Identitas-identitas diri akan berbahaya, terutama kalau kita adalah orang penting.

IMG_8355Andika Dewantara, salah satu mahasiswa, menanyakan bagaimana cara agar soft-power diplomacy Indonesia bisa berhasil di luar negeri. Prof. Andrik menjawab bahwa jika kita memakai soft-power dalam bidang politik, maka jatuhnya adalah menang dan kalah. Indonesia ada kemungkinan kalah. Begitu pula jika Indonesia memakai soft-power dalam bidang ekonomi, kita kemungkinan kalah karena jatuhnya kalah dan menang. Namun, jika cara yang kita pakai dalam soft-power diplomacy adalah melalui budaya, kita bisa sama-sama diuntungkan karena kita sama-sama senang menikmati budaya yang kita tampilkan tersebut.

Dengan adanya diskusi ini, Prof. Andrik mengingatkan kita semua bahwa Hubungan Internasional harus punya respon yang kritis dan kontributif untuk membuat para civitas akademika-nya menjadi manusia yang unggul dan berguna bagi kemajuan kehidupan masyarakat. HI hebat!

Kuliah Umum Profesor Abubakar Ebihara: Proyeksi Politik Luar Negeri Indonesia di Kawasan Asia-Pasifik

IMG_8312Pada tanggal 18 Mei 2017, Jurusan Hubungan Internasional mengadakan kuliah umum politik luar negeri Indonesia yang diisi oleh Profesor Abubakar Ebihara. Beliau merupakan dosen Universitas Jember dan pernah menjadi dosen tamu di Universitas Utara, Malaysia.

Dalam kuliah umumnya yang berjudul Proyeksi Politik Luar Negeri Indonesia di Kawasan Asia-Pasifik, Profesor Ebi mencoba menganalisis politik luar negeri Indonesia dalam tiga perspektif besar dalam ilmu hubungan internasional, yaitu realisme, liberalisme, dan konstruktivisme. Perspektif realisme, misalnya, selama ini dapat menjelaskan politik Perang Dingin. Namun pada masa sekarang, realisme juga masih bisa relevan dalam kondisi-kondisi tertentu. Geopolitik adalah salah satu perspektif realisme yang pernah dipakai oleh para pemimpin Indonesia, misalnya oleh Muhamad Yamin yang memasukkan wilayah Malaysia sebagai bagian dari Indonesia merdeka. Itu berarti seorang pemimpin menganggap penting wilayah, dan setiap pemimpin hampir pasti memikirkan hal ini. Setiap pemimpin memikirkan tentang ancaman. Bung Karno, sebagai contoh lain, khawatir dengan Irian Barat dan Malaysia. Presiden Soeharto mengingkan ASEAN, kawasan Asia Tenggara, sebagai kawasan yang bebas nuklir.

Dalam perspektif liberalisme, salah satu proyeksinya adalah ketika Indonesia fokus pada ekonomi di ASEAN. Sementara itu, perspektif konstruktivisme yang menganggap penting ide juga hadir dalam proyeksi politik luar negeri Indonesia. Perspektif konstruktivisme percaya bahwa dunia internasional digerakkan oleh ide, dan bagaimana ide tersebut relevan dan diterapkan. Presiden Soeharto, misalnya, punya pandangan bahwa Indonesia itu pembangunan lebih dahulu saja, bukan koar-koar di luar seperti Bung Karno. Contoh lain adalah pandangan dan perilaku yang berangkat dari identitas negara demokrasi dan menghormati hak asasi manusia. Presiden Megawati, dalam menangani kasus terorisme, lebih memilih menggunakan kekuatan polisi, bukan militer seperti yang dilakukan Amerika Serikat. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono membuat Bali Democratic Forum untuk menegaskan diri sebagai negara demokratis.IMG_8310

Setelah materi yang disampaikan Profesor Ebi, kuliah umum kemudian dilanjutkan dengan sesi diskusi tanya jawab. Diskusi berjalan cukup seru yang mana muncul banyak pertanyaan dari pada mahasiswa yang hadir dalam kuliah umum ini.

Peserta kuliah umum Andika Sandi menanyakan bagaimana Indonesia melihat Tiongkok yang terus mengalami perkembangan, baik secara ekonomi maupun militer. Profesor Ebi menjawab bahwa secara umum, dalam prakteknya, Indonesia tidak melihat Tiongkok sebagai ancaman, melainkan ada potensi kerja sama di sana. Belum lama ini Presiden Joko Widodo juga berkunjung ke Tiongkok.

Fitri Adziza menanyakan mengenai bagaimana sebenarnya kebijakan politik luar negeri Presiden Joko Widodo, dan bagaimana perbedaannya dengan politik Presiden Susilo Bambang Yudhoyono yang lebih menerapkan high-profile policy. Menjawab pertanyaan tersebut, Profesor Ebi lebih dahulu menegaskan bahwa Presiden SBY memang mendominasi aktivitas luar negeri pada masa pemerintahannya. Oleh karena itu, ada orang-orang yang kecewa dengan Presiden Joko Widodo karena meninggalkan apa yang telah dilakukan oleh Presiden SBY tersebut. Acara Bali Democratic Forum yang dulunya konferensi tingkat tinggi selevel kepala negara, sekarang hanya jadi pertemuan level menteri saja. Presiden Joko Widodo cenderung menganut keterlibatan selektif. Padahal, negara-negara yang sekarang datang ke Indonesia adalah hasil dari aktivisme pada zaman Presiden SBY, karena negara-negara tersebut menganggap Indonesia sebagai negara yang berhasil dalam demokrasi.

IMG_8308Peserta lain, Zakie Andiko Ramadhani, menanyakan bagaimana melihat konstruktivisme dala menganalisis kebijakan suatu negara. Profesor Ebi langsung mencontohkan Presiden Soeharto dan para pendukungnya (seperti Soemitro, Emil Salim, atau Adam Malik) yang memiliki ide pembangunan, yaitu bahwa perilaku Indonesia harus diartikan ke arah kepentingan nasional. Yang penting kuat dulu di dalam, nanti baru aktif ke luar. Dalam ide pembangunan ini, politik luar negeri harus konkret, bukan seperti Bung Karno yang flamboyan, banyak bunga-bunga.

Diskusi yang seru tersebut kemudian ditutup dengan pemberian plakat dan beberapa karya ilmiah jurusan Hubungan Internasional untuk Profesor Ebi. HI hebat!

Seminar Diplomasi Digital: Respon terhadap Kemajuan Teknologi Informasi

Pada tanggal 17 Mei 2017 perwakilan dosen dari Hubungan Internasional UNSOED mengikuti Experts Meeting on Digital Diplomacy yang bertema Strategi Diplomasi Publik Indonesia di Era Digital. Seminar tersebut diadakan di Convention Hall, Gedung BB Lantai 4, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Gadjah Mada. Pertemuan tersebut terselenggara atas kerja sama antara Kementrian Luar Negeri Republik Indonesia dan Center for Digital Society (CfDS) FISIPOL UGM.

FullSizeRenderDalam kata sambutannya, Wakil Menteri Luar Negeri Indonesia Abdurrahman Mohammad Fachir mengatakan mengenai fenomena atau realitas masa kini mengenai gaya hidup masyarakat yang berubah. Realitas pertama, era digitalisasi mendekatkan yang jauh dan menjauhkan yang dekat. Kedua, kita bisa memiliki teman yang bahkan belum pernah kita temui. Era digital memungkinkan orang yang tidak dikenal sebelumnya untuk menjadi presiden, misalnya dalam kasus Presiden Obama. Media sosial bahkan memiliki andil dalam kejatuhan Husni Mubarak. Ketiga, pada masa kini, informasi bisa cepat diketahui dan cepat tersebar. Keempat, teknologi informasi bisa membingungkan karena banyak informasi yang datang kepada kita.

Dengan demikian, menurut Wakil Menlu, mau tidak mau, individu atau pemerintah harus berubah. Pedoman kebijakan pemerintah masih sama, yang mana dalam Pembukaan UUD alinea 4 disebutkan bahwa pemerintahan harus “melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial”. Dengan tiga konsep yang ada, yaitu “digital”, “diplomacy”, dan “public”, semua orang bisa menjadi aktor atau pelaku dalam pendekatan diplomasi yang baru. Caranya, misalnya, kalau kita membuat status di Facebook atau Twitter. Di Kementerian Luar Negeri, setiap ada acara akan di-tweet-kan, baik itu kejadian maupun pesannya.

Dalam Plenary Session, pembicara Dr. Nanang Pamuji Mugasejati dari CfDS memberikan pendahuluan mengenai apa yang membuat digital diplomacy menjadi penting. Pertama, proses digitalisasi produk. Dulu orang jual piringan hitam yang tidak bisa dibajak, tapi sekarang menjadi era sharing file. Kedua, lahirnya masyarakat digital, yaitu masyarakat yang interaksinya dibangun oleh alat digital. Dulu tahun 1996, menurut cerita Dr. Nanag Pamuji yang kuliah di Jepang, susah untuk menelpon ke rumah. Biaya telepon menghabiskan sekitar 10 persen biaya beasiswa. Kemudian muncul hotmail. Sekarang, karena terlalu mudahnya menghubungi orang lain, kita kadang-kadang harus menghindar.IMG_8302

Pertanyaannya, apa implikasinya ke bisnis? Pertama, ada perbedaan masyarakat face-to-face dan masyarakat digital. Masa sekarang, permintaan terhadap trust sangat penting. Sulit untuk melihat mana yang pencitraan mana yang genuine. Iklan perusahaan menjadi tidak laku karena orang-orang lebih memiliki kepada rekomendasi orang lain. Jangan-jangan, semakin banyak Kemenlu bicara, jangan-jangan orang lain semakin tidak dipercaya. Kedua, masalah utilitas. Orang akan dilihat kalau yang mereka bicarakan adalah utilitas. Ketiga, implikasinya viral sehingga ada terlalu banyak informasi di lapangan.

Dalam soal diplomasi, diplomasi adalah alat untuk mengelola perubahan. Oleh karena itu, kata kunci di situ adalah kemampuan diplomatnya. Sosial media hanya lah alat untuk nation branding. Dengan demikian, diplomasi face-to-face masih relevan. Dalam kondisi krisis dan dalam isu-isu yang sensitif, diplomasi face-to-face lebih cocok karena menampilkan respon langsung dan efektif (tidak perlu mengetik dulu). Diplomasi digital bisa menimbulkan salah paham karena, misalnya, kelemahannya adalah emosi tidak bisa muncul di sana. Emotikon tidak bisa menggantikan sepenuhnya.

Pembicara kedua, Direktur Eksekutif Indo Barometer Dr. Muhammad Qodari, menyatakan bahwa di dalam negeri, soal-soal luar negeri belum mendapatkan perhatian masyarakat. Sementara itu, pembicara ketiga, Direktur Jogja Sillicon Valley Samuel Henry,menyinggung mengenai serangan virus Wannacry dan pertahanan nasional Indonesia terhadap cyber. Belum adanya badan pusat koordinasi membuat polisi ribut sendiri dengan TNI, dan Kominfo dibuat kalang kabut.

Secara umum, seminar Diplomasi Digital berusaha membangun kesadaran bahwa pada masa ini, pemerintah dan masyarakat perlu memberi respon yang tepat mengenai perkembangan kemajuan teknologi informasi.

HI hebat!